Pembelajaran berbicara dalam bahasa arab

Posted: December 22, 2012 in Pembelajaran Bahasa

  1. Pengertian Pembelajaran Berbicara

Berbicara adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan fikiran gagasan dan perasaan.

Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun seta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atu penyimak.

Dengan demikian pembelajaran berbicara dapat didefinisikan sebagai aktifitas mengungkapan gagasan, pendapat, ide melalui lisan dalam kegiatan pembelajaran.

 

  1. Unsur-unsur dalam Kegiatan Berbicara
  2. Pembicara
  3. Isi Pembicaraan
  4. Saluran
  5. Penyimak, dan
  6. Tanggapan penyimak

 

  1. Konsep Dasar Berbicara
    1. Membutuhkan paling sedikit dua orang,
    2. Menggunakan salah satu sandi linguistic yang difahami bersama
    3. Mengakui atau menerima satu daerah referensi umum, daerah referensi yang mungkin tidak selalu dikenal, ditentukan, namum pembicara menerima kecenderungan untuk menentukan satu diantaranya.
    4. Merupakan suatu pertukaran antara partisipan, kedua pihak partisipan yang  memberi dan menerima dalam pembicaraansating bertukar sebagai pembicara dan penyimak.
    5. Menghubunghkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan lingkungan dengan segera. Prilaku lisan sang pembicara selalu berhubungan dengan respon yang nyata atau yang diharapkan, dan seorang penyimak dan sebaliknya.
    6. Berhubungan dengan atau berkaitan denganmasa kini.
    7. Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang dengan suara atau bunyi bahasa dan pendengar.
    8. Secara tidak pandang bulu mengharap serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil.

 

  1. Tujuan Pengaran Berbicara dalam Pengajaran Bahasa Arab
    1. Agar siswa mapu berinteraksi dengan guru, teman atau dengan orang asing (asli arab) dengan baik dan benar.
    2. Melatih dan mengembangkan fotensi siswa dalam menggunakan bahasa secara lisan untuk mengemukakan pendapat, perasaan, menjalin komunikasi, dan melakukan inyteraksi dengan masyarakat luas.

 

  1. Manfaat Pembelaaran Berbicara

Kompetisi yang ingin dicapai dari pembelajaran berbicara mencakup kemempuan melafalkan secara tepat (menggunakan artikulasi dengan tepat), kemampuan memilih kata (diksi), kemampuan menggunakan intonasi dan irama, kemampuan berbicara untuk mengemukakan pendapat, kemampuan berbicara untuk menyampaikan informasi, dan lain sebagainya.

 

  1. Prinsip Pembelajaran Berbicara

Ada 3 Prinsip dalam pembelajaran berbahasa, diantaranya:

  1. Komunikasi
  2. Interaksi
  3. Transaksi

 

  1. Metode Pembelaaran Berbicara

Beberapa metode pengajaran dalam pembelajaran bahasa arab:

  1. Metode ulang ucap

Kegiatan ini dapat dimulai dari kegiatan sederhana yaitu dengan menugaskan siswa mengulang kata yang diucapkan oleh guru.

  1. Metode lihat ucap

Siswa ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat yang berhubungan dengan benda yang diperlihatkan oleh guru.

  1. Metode memberikan deskripsi

Dengan metode ini, siswa ditugaskan untuk mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang dilatih selain keterampilan pokok yaitu mengungkapkan pendapat adalah mengamati benda, memilih dan mencocokan.

  1. Metode menjawab pertanyaan

Metode ini sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada kondisi dan jenis sembarang bahan ajar.

  1. Metode bertanya

Metode bertanya juga sangat layak digunakan pada sembarang bahan ajar. Dengan menyajikan bahan ajar terlebih dahulu kemudian siswa ditugaskan membuat pertanyaan tentang sesuatu yang difahami oleh siswa atau bahkan dalam tataran menguji materi ajar itu sendiri.

  1. Metode pertanyaan menggali

Metode ini sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang stagnan dan dengan rata-rata tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja. Terkadang usaha ini sulit dan bahkan membuat kita jengkel karena harus berputar-putar mencari pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak seni kita sebagai guru.

  1. Metode melanjutkan

Dalam kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk membuat ide cerita dan siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.

  1. Metode menceritakan kembali

Siswa ditugaskan untuk membaca atau mendengar cerita untuk kemudian diceritakan kembali secara lisan.

  1. Metode percakapan atau bermain peran

Kegiatan ini sangat baik dilakukan untuk pemahaman tingkat lanjut tentang suatu cerita dimana dengan memerankan, siswa akan lebih memahami bukan hanya alur cerita, akan tetapi akan lebih kepada penjiwaan karakter masing-masing.

  1. Metode Parafrase

Metode ini merupakan pembelajaran berbicara tingkat lanjut sebelum pembelajaran bermain peran. Beberapa unsure paraphrase:

a)    Paraprase kalimat

Artinya memisahkan/memenggal sebuah kalimat menjadi beberapa kata menurut jabatannya, yaitu: subjek, predikat dan objek serta keterangan.

b)   parafrase suku kata

Artinya memisahkan/memenggal sebuah kata menurut suku katanya.

c)    parafrase puisi

Artinya mengubah bentuk puisi kebentuk prosa/narasi.

 

  1. Macam Keterampilan Berbicara yang Dikembangkan

Keterampilah berbicara yang dapat dikembangkan, meliputi:

  1. Berdiskusi;
  2. Berpidato;
  3. Wawancara;
  4. Memberi tanggapanmenyampaikan informasi;
  5. Menyampaikan suatu peristiwa; dan
  6. Berbicara sastra.

 

  1. Model

Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif, oleh karena itu kita harus terampil berbahasa supaya komunikasi berjalan lancar. Suatu komunikasi dikatakan berhasil kalau pesan yang disampaikan pembicara atau penulis dapat dipahami penyimak atau pembaca persis sama seperti yang dimaksudkan pembicara atau penulis tersebut.

Keterampilan berbahasa ada empat yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan tersebut saling berhubungan sehingga menjadi catur tunggal. Berbicara merupakan proses berpikir dan bernalar agar pembicaraan seseorang dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh orang lain atau penyimak. Keterampilan berbicara mempunyai kaitan erat keterampilan mrenyimak. Keduanya merupakan satu kesatuan yang padu. Seseorang dapat berbicara dalam arti menanggapi tuturan dari orang lain tentu melalui menyimak dan sebalikanya seseorang dapat melakukan kegiatan menyimak apabila ada orang yang berbicara.

Pencapaian tujuan belajar tercermin dari kemampuan belajar siswa yang dituangkan dalam bentuk nilai dan ketrampilan yang dimiliki oleh siswa dalam mata pelajaran yang bersangkutan. Melalui kemampuan yang diraih oleh siswa kita dapat mengetahui kadar penguasaan kompetensi dari mata pelajaran yang diberikan.

 

  1. Teknik Pembelaaran Berbicara

Berbicara merupakan sarana utama untuk membina saling pengertian, komunikasi timbal balik, dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Kegiatan berbicara didalam kelas bahasa mempunyai aspek komunikasi dua arah, yakni antara pembicara dengan pendengarnya secara timbal balik. Dengan demikian latihan berbicara harus terlebih dahulu didasari oleh: (1) kemampuan mendengarkan, (2) kemampuan mengucapkan, dan (3) penguasaan (relatif) kosa kata.

Secara umum tujuan latihan berbicara untuk tingkat pemula dan menengah ialah agar siswa dapat berkomunikasi lisan secara sederhana dalam Bahasa Arab. Oleh karena itu, dalam pembelajarannya harus mampu menggugah dan memotivasi siswa untuk berbicara dan mempunyai keberanian untuk mempraktikkannya.

Berikut ini ada beberapa tahapan dalam latihan berbicara. Pada tahap-tahap permulaan, latihan berbicara dapat dikatakan serupa dengan latihan menyimak. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, dalam latihan menyimak ada tahap mendengarkan dan menirukan. Latihan mendengarkan dan menirukan ini merupakan gabungan antara latihan dasar untuk kemahiran menyimak dan kemahiran berbicara.

Adapun beberapa model latihan berbicara diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Latihan Asosiasi dan Identifikasi

Latihan ini dimaksudkan untuk melatih spontanitas siswa dan kecepatannya dalam mengidentifikasi dan mengasosiasikan makna ujaran yang didengarnya. Bentuk latihannya antara lain:

a)      Guru menyebut satu kata, siswa menyebut kata lain yang ada hubungannya dengan kata tersebut. Contoh:

b)      Guru menyebut satu kata, siswa menyebut kata lain yang tidak ada hubungannya dengan kata tersebut. Contoh:

c)      Guru menyebut satu kata benda (noun), siswa menyebut kata sifat yang sesuai. Contoh:

d)     Guru menyebut satu kata kerja (verb), siswa menyebut pelaku (subyek) yang sesuai. Contoh:

e)      Guru menyebut satu subyek, siswa 1 menyebut kata kerja (verb) yang cocok, siswa 2 melengkapi dengan sebuah frasa, dan siswa 3 mengucapkan kalimat dengan menyusun kata yang telah ada. Contoh:

f)       Guru atau salah seorang siswa menulis satu kata (secara rahasia), kemudian siswa satu mengajukan pentanyaan untuk dapat menebak kata yang ditulis.

2) Latihan Pola Kalimat ( Pattern Practice )

Secara garis besar macam model latihan dapat dibedakan menjadi tiga jenis:

a)    Latihan mekanis

b)   Latihan bermakna

c)    Latihan komunikatif

3) Latihan Percakapan

Banyak teknik dan model latihan percakapan yang telah dikembangkan oleh para pengajar bahasa. Diantara model-model latihan percakapan itu ialah sebagai berikut:

a)    Tanya Jawab

b)   Menghafalkan Model Dialog

c)    Percakapan Terpimpin

d)   Percakapan Bebas

 

4)   Bercerita

Bercerita mungkin salah satu kegiatan yang menyenangkan, tapi bagi yang mendapat tugas bercerita kadang kala merupakan siksaan karena tidak punya gambaran apa yang akan diceritakan. Oleh karena itu guru hendaknya membantu siswa dalam menemukan topik cerita.

 

5)   Diskusi

Ada beberapa model diskusi yang bisa digunakan dalam latihan berbicara, antara lain:

a)    Diskusi kelas dua kelompok berhadapan

b)   Diskusi kelas bebas

c)    Diskusi kelompok

d)   Diskusi panel

 

Dalam pemilihan topik diskusi hendaknya dipertimbangkan hal-hal berikut ini:

a)    Disesuaikan dengan kemampuan siswa.

b)   Disesuaikan dengan minat dan selera siswa bukan minat dan selera guru.

c)    Topik hendaknya bersifat umum dan populer.

d)   Dalam menentukan topik, sebaiknya siswa diajak serta untuk merangsang keterlibatan mereka dalam kegiatan berbicara.

6)   Wawancara

a)    Persiapan wawancara

1)   Sebelum kegiatan dilaksanakan, pihak-pihak yang akan diwawancarai sudah mempersiapkan pokok masalah yang akan dibicarakan.

2)   Pewawancara dalam hal ini juga harus mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepada sasaran informasi.

3)   Dalam hal ini guru berkewajiban membimbing kearah pemakaian kalimat yang singkat dan tepat.

 

b)   Bentuk wawancara

Kegiatan wawancara ini dapat dilakukan dalam dua bentuk:

1)   Wawancara dengan tamu

2)   Wawancara dengan teman sekelas

 

Bahan wawancara adalah data pribadi siswa, misalnya data mengenai keluarga, kegiatan sehari-hari, hobi dan sebagainya.

 

7) Drama

Drama merupakan kegiatan yang mengandung unsur rekreatif, karenanya menyenangkan. Namun tidak setiap siswa berbakat atau mempunyai minat untuk bermain drama, oleh karena itu guru memilih siswa-siswa tertentu untuk memainkan drama, sedang siswa yang lain sebagai penonton.

 

8) Berpidato

Kegiatan ini hendaknya dilakukan setelah siswa mempunyai cukup pengalaman dalam berbagai kegiatan berbicara yang lain seperti percakapan, bercerita, wawancara, diskusi dan lain-lain. hal ini perlu karena kegiatan berpidato ini sifatnya selalu resmi dan membutuhkan gaya bahasa yang lebih baik, oleh karena itu perlu waktu persiapa yang cukup.

 

  1. Contoh Proses Pembelaaran Berbicara

Untuk mencapai kemampuan komunikatif, para pelajar perlu terlebih dahulu melalui beberapa aktivitas komunikasi, yang terbagi menjadi dua tahap yaitu:

a) Aktivitas Pra Komunikatif

Aktivitas Pra Komunikatif menyajikan beberapa hal sebagai berikut:

1)   Hafalan dialog

Menghafalkan kalimat dalam sebuah dialog dan mendramatisasikannya.

2)   Dialog melalui gambar

Guru membawa gambar-gambar dan menunjukkan satu persatu sambil menanyakan. Misalnya:

ما هذا؟  هذا قلم

3)   Dialog terpimpin

Guru memberi latihan secara drill berbentuk tanya jawab. Misalnya:

لمذا أنت متأخر؟

kemudian siswa menjawab sesuai dengan yang didrillkan, yakni:

خلبني نوم

4)   Dramatis Tindakan

Hendaknya guru terlebih dahulu menentukan materi dasar pelajaran yang meliputi struktur dan kosa kata.

5)   Menjelaskan kalimat, paragraf atau cerita pendek

 

b) Aktifitas Komunikatif

Aktifitas komunikatif menyajikan beberapa hal, diantaranya:

1)      Percakapan kelompok

Teknik; guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang setiap kelompok mempunyai ketua. Para siswa bergantian untuk mengatakan sesuatu lalu disambung oleh teman sekelompoknya sehingga menjadi satu cerita yang utuh.

2)      Bermain peran

Pada aktifitas ini guru memberikan tugas peran tertentu yang harus di lakukan oleh para pelajar. Peran yang di berikan harus disesuaikan dengan tingkat penguasaan bahasa para pelajar.

3)      Praktek ungkapan sosial

Ungkapan sosial maksudnya adalah perilaku-perilaku sosial saat berkomunikasi yang diungkapkan secara lisanya memberi hormat pujian, ucapan sel;amat dan lain-lainya.

ü Menjawab pertanyaan berdasarkan pengalaman

ü Memainkan language games

ü Problem Solving

 

c)     Sistematika Penilaian

Aspek-aspek yang dinilai dalam kegiatan berbicara, sebagaimana disarankan oleh para ahli adalah sebagai berikut :

A. Aspek kebahasaan

1. Pengucapan

2. Penempatan tekanan

3. Nada dan Irama

4. Pilihan kata

5. Susunan kalimat

6. Variasi

B. Aspek non kebahasaan

1. Kelancaran

2. Penguasaan topik

3. Keterampilan

4. Keberanian

5. Kelincahan

6. Ketertiban

7. Kerjasama

Skala penilaian ini dapat digunakan untuk penilaian individual maupun kelompok.

 

 

BAB III

SIMPULAN

 

Seperti telah kita ketahui bahwa dalam kegiatan menyimak aktivitas kita awali dengan mendengarkan dan diakhiri dengan memahami atau menanggapi. Kegiatan berbicara tidak demikian . Kegiatan berbicara diawali dari suatu pesan yang harus dimiliki pembicara yang akan disampaikan kepada penerima pesan agar penerima pesan dapat menerima atau memahami isi pesan itu.

Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan hubungan dan kerja sama denagn manusia lain. Hubungan dengan manusia lainnya itu antara lain berupa menyampaikan isi pikiran dan persaan, menyampaikan suatu informasi, ide atau gagasan serta pendapat atau pikiran dengan suatu tujuan.

Dalam menyampaikan pesan seseorang menggunakan suatu media atau alat yaitu bahasa, dalam hal ini bahasa lisan. Seorang yang akan menyampaikan pesan tersebut mengharapkan agar penerima pesan dapat memahaminya.

Pemberi pesan disebut juga pembicara dan penerima pesan disebut penyimak atau pendengar. Peristiwa proses penyampaian pesan secara lisan seperti itu disebut berbicara. Dengan rumusan lain dapat dikemukakan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s