Metode Ilmiah dalam pengembangan ilmu

Posted: December 21, 2012 in Filsafat

 A.       Metode Ilmiah

Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.”
Metode Ilmiah merupakan suatu cara sistematis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur dan terkontrol. Menurut A. Nashrudin, S.IP, M,Si (dossuwanda.wordpress.com ), Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Berdasarkan fakta
2. Bebas dari prasangka
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa
4. Menggunakan hipolesa
5. Menggunakan ukuran objektif
6. Menggunakan teknik kuantifikas
A.   Pengertian Metode Berfikir Ilmiah
Pengertian Metode Berpikir IlmiahSecara etimologi, metode berasal dari bahasa yunani yaitu kata meta (sesudahatau dibalik sesuatu) dan hodos (jalan yang harus ditempuh). jadi metode adalahlangkah-langkah (cara dan teknis) yang diambil, menurut urutan atau sistematikatertentu untuk mencapai pengetahuan tertentu, Metode menurut Senn,merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyailangkah-langkah yang sistematis. Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.Metode berpikir ilmiah merupakan prosedur, cara atau teknik dalammendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu, jadi ilmu merupakan pengetahuanyang didapatkan lewat metode ilmiah atau dengan kata lain bahwa suatupengetahuan baru dapat disebut suatu ilmu apabila diperoleh melalui kerangkakerja ilmiah, syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan metode ilmiah. Pendapat lainmengatakan bahwa metode ilmiah adalah sebuah prosedur yang digunakanilmuwan dalam pencarian kebenaran baru. Dilakukan dengan cara kerjasistematis terhadap pengetahuan baru dan melakukan peninjauan kembalikepada pengetahuan yang telah ada.
B.        Tujuan Penggunaan Metode Ilmiah
Tujuan dari penggunaan metode ilmiah adalah tuntutan supaya ilmu pengetahuan bisa terus berkembang seiring perkembangan zaman dan menjawab tantangan yang dihadapi. Dengan berbagai riset yang dilakukan oleh para ilmuwan guna mengembangkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan (sains) yang akan mempermudah dari persoalan-persoalan manusia.
Metode ilmiah merupakan sebuah konsep dimana para ilmuwan mencoba untuk meneliti disetiap masing-masing ilmu pengetahuan yang akan mengembangkan ilmu-ilmu tersebut dengan menggunakan metode-metode ilmiah.
C.        Manfaat Metode Berpikir Ilmiah
Seperti diketahui bahwa berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran,dengan menggunakan metode berpikir ilmiah manusia bisa terus meng Update pengetahuan menggali dan mengembangkannya. Sifat ingin tahu pada diri manusia mendorong manusia mengungkapkan pengetahuan, meski dengan cara dan pendekatan yang berbeda.M. Solly Lubis menjelaskan bahwa manusia mampu mengembangkan pengetahuannya karena dua hal: pertama, manusia mempunyai bahasa yangdapat dijadikan media untuk mengkomunikasikan informasi dan jalan pikirannya;dan kedua, manusia memiliki kemampuan berpikir berdasarkan suatu alur dankerangka berpikir tertentu, dengan kata lain, bahasa yang komunikatif dan nalar memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya, dan nalar sebagaibagian dari kegiatan berpikir memiliki dua ciri utama yaitu logis dan analitisSecara historis, terdapat empat cara manusia memperoleh pengetahuan yang tadi disebut sebagai pelekat dasar kemajuan manusia, keempat cara tersebutadalah:
1) berpegang pada sesuatu yang sudah ada (metode keteguhan);
 2)merujuk kepada pendapat ahli (metode otoritas);
3) berpegang pada intuisi(metode intuisi);
4) menggunakan metode ilmiah.
Cara pertama Sampai cara ketiga, disebut sebagai cara kebanyakan orang, atau orang awam dan cenderung tidak efisien, dan kurang produktif bahkan terkadang tidak objektif dan tidak rasional. Sedangkan cara terakhir, yaitu metode ilmiah adalah cara ilmiah yang dipandang lebih rasional, objektif, efektif dan efisien. Cara yang keempat ini adalah cara bagaimana para ilmuwan memperoleh ilmu yang dalamprakteknya metode ilmiah untuk mengungkapkan dan mengembangkan ilmudikerjakan melalui cara kerja penelitian.Bahwa manusia disadari atau tidak akan selalu menghadapi masalah, manusiaselalu dituntut untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya bagaimanaseorang nelayan agar bisa mendapatkan ikan yang banyak, petani agar tanamannya tidak diserang hama dengan hasil yang memuaskan, termasukbagaimana cara mendidik anak tentu semua itu ada metode penyelesaiannyaterlepas dari apakah permasalahan itu modusnya sama dengan yang pernahterjadi dulu sekalipun dengan tantangan baru maka metode penyelesaiannyapun harus baru pula. Karena itulah tuhan memberikan manusia akal pikiran, agar manusia mengoptimalkan fasilitas yang suduh diberikan oleh tuhannya agar bisamenjawab tantangan zaman dan permasalahan yang muncul dengan setingsosial dan modus yang berbeda pula. Masalahnya bisakah manusia bercocoktanam, menangkap ikan, mendidik anak dengan baik tanpa adanya metodetertentu dalam melahirkan pengetahuan. Dan pengetahuan diperoleh melaluisebuah sistem tata fikir yang dilakukan manusia, oleh karena itu hal inimenunjukan bahwa penelitian ilmiah dengan metode ilmiah memiliki perananpenting dan memberikan manfaat yang banyak dalam membantu manusia dalammemecahkan permasalahannya. Pengetahuan mempunyai sistem dan ilmuadalah pengetahuan yang sistematis, pengetahuan yang dengan sadar menuntutkebenaran, dan melalui metode tertentu.
D.       Prosedur Berpikir Ilmiah Penalaran rasional dan empiris
Prosedur berfikir ilmiah penalaran rasional dan empiris merupakan dua model yang selalu menjadi sumber sekaligus metodologis dalam menghasilkan ilmu pengetahuan, ilmu yangdihasilkan dari sumber tadi, selalu menuntut dilakukan observasi danpenjelajahan baru terhadap masalah yang dihadapi dari pra anggapan(hipiotesis/dedukasi), pengujian dilakukan melalui studi lapangan(empiris/induksi). Jadi metode ilmiah adalah penggabungan antara cara berpikir deduktif (rasional) dan induktif (empiris) dalam membangun pengetahuan.Secara rasioanal maka ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dankumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yangsesuai dengan fakta dan yang tidak. Dengan demikian bahwa semua teori ilmiahharus memenuhi dua syarat utama yakni:
a) harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teorikeilmuan secara keseluruhan; dan
b) harus cocok dengan fakta-fakta empiris sebab teori yang sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.
Jadi logika ilmiah merupakan gabungan antara logika deduktif dan logika induktif dimana rasionalisme dan empirisme hidup berdampingan dalam sebuah sistem.Teori apapun konsistennya jika tidak didukung pengujian empiris maka tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah. begitupun sebaliknya seberapa pun faktualitasnya fakta-fakta yang ada, tanpa didukung asumsi rasional maka iahanya akan menjadi fakta yang mati yang tidak memberikan pengetahuan kepada manusia.Oleh karena itu, sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara, yang biasanyadisebut hipotesis. Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang kita hadapi, hipotesis berfungsi sebagai penunjuk jalan yang memungkinkan kita untuk memperoleh jawaban. Hipotesis disusun berdasarkancara kerja deduktif, dengan mengambil premis-premis dari penetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya. Penyususnan hipotesis berguna untukmenunjang terjadinya konsistensi pengembangan ilmu secara keseluruhan danmenimbulkan efek kumulatif dalam kemajuan ilmu. Hipotesis dapat menjadi jembatan pemanduan antara cara kerja deduksi dan induksi.Langkah selanjutnya setelah penyusunan hipotesis adalah menguji hipotesistersebut dengan mengkonfrontasikannya, mengkomunikasikannya dengan duniafisik yang nyata, dalam proses pengujian ini merupakan pengumpulan fakta yangrelevan dengan hipotesis yang diajukan. fakta-fakta ini bisa bersifat sederhanayang bisa langsung ditangkap oleh panca indra ada juga yang harusmenggunakan alat seperti teleskop dan mikroskop.Dengan adanya jembatan berupa penyusunan hipotesis, metode ilmiah seringdikenal sebagai proses logico-hypofhetico-verifikafio (logic, hipotetik, sekaligusverifikatif). Perkawinan berkesinambungan antara deduksi dan induksi disebutdengan prosedur berpikir ilmiah. proses induksi diperlukan untuk melakukanverifikasi atau pengujian hipotesis di mana dikumpulkan fakta-fakta empiris untukmenilai apakah sebuah hipotesis didukung oleh fakta atau tidak.”Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalambeberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah.kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses Logico-hypofhefico-verifikafio inipada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Perumusan masalah yang merupakan pertanyaan mengenai objek empirisyang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkaitdi dalamnya.
2. Pernyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakanargumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antaraberbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan.Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiahyang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empirisyang relevan dengan permasalahan
3. Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaanterhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan darikerangka berpikir yang dikembangkan
4. Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevandengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak
5. Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujianterdapat fakta yang cukup dan mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima.Sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup.
E.    Sifat Ilmu Pengetahuan dan Metode Ilmiah:
 Logis atau masuk akal, yaitu sesuai dengan logika atau aturan berpikir yang ditetapkan dalam cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Definisi, aturan, inferensi induktif, probabilitas, kalkulus, dll. merupakan bentuk logika yang menjadi landasan ilmu pengetahuan. Logika dalam ilmu pengetahuan adalah definitif. Obyektif atau sesuai dengan fakta. Fakta adalah informasi yang diperoleh dari pengamatan atau penalaran fenomena.
Obyektif dalam ilmu pengetahuan berkenaan dengan sikap yang tidak tergantung pada suasana hati, prasangka atau pertimbangan nilai pribadi. Atribut obyektif mengandung arti bahwa kebenaran ditentukan oleh pengujian secara terbuka yang dilakukan dari pengamatan dan penalaran fenomena.
Sistematis yaitu adanya konsistensi dan keteraturan internal. Kedewasaan ilmu pengetahuan dicerminkan oleh adanya keteraturan internal dalam teori, hukum, prinsip dan metodenya. Konsistensi internal dapat berubah dengan adanya penemuan-penemuan baru. Sifat dinamis ini tidak boleh menghasilkan kontradiksi pada azas teori ilmu pengetahuan.
Andal yaitu dapat diuji kembali secara terbuka menurut persyaratan yang ditentukan dengan hasil yang dapat diandalkan. Ilmu pengetahuan bersifat umum, terbuka dan universal.
Dirancang. Ilmu pengetahuan tidak berkembang dengan sendirinya. Ilmu pengetahuan dikembangkan menurut suatu rancangan yang menerapkan metode ilmiah. Rancangan ini akan menentukan mutu keluaran ilmu pengetahuan.
Akumulatif. Ilmu pengetahuan merupakan himpunan fakta, teori, hukum, dll. yang terkumpul sedikit demi sedikit. Apabila ada kaedah yang salah, maka kaedah itu akan diganti dengan kaedah yang benar. Kebenaran ilmu bersifat relatif dan temporal, tidak pernah mutlak dan final, sehingga dengan demikian ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan terbuka.
Daftar Pustaka
1.       Abdulloh, Taufik. Ilmu sosial dan tantangan zaman.2006. Jakarta: Rajawali Press
2.       Wallace, Walter L.Metoda logika Ilmu sosial.1994. Jakarta : Bumi Aksara (diterjemahkan Drs. Lailil Kodar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s