Tawa Menuju Tuhan

Posted: December 8, 2012 in Filsafat

Alkisah setelah kehilangan keledainya, Mulla lalu mengangkat kedua tangannya, ia bersyukur kepada Tuhan. “Tuhan aku bersyukur kepada-Mu, aku telah kehilangan keledaiku.”
Seorang yang melihat dan mendengar doa Mulla bertanya, “Kamu kehilangan keledaimu, dan kamu bersyukur kepada Tuhan?”
“Aku bersyukur kepada-Nya atas kebijakan-Nya yang mentakdirkan bahwa aku tidak menunggangi keledai waktu itu. Kalau tidak, sekarang aku tentu hilang juga.”

Anda boleh tersenyum ataupun tidak, melihat keluguan Mulla ini. Keluguan Mulla adalah ciri lain dari keikhlasannya. Tidak hanya Mulla atau guru sufi lainnya tapi seperti begitulah cara kaum sufi menempatkan dirinya sebagai makhluk Tuhan.

Dalam sebuah kesempatan kajian tasawuf (kajian irfan) seorang teman “spiritual” saya berucap sembari bergurau “Hanya ada satu hal yang membedakan antara masyarakat manusia dengan komunitas primata – kera atau gorilla – “, Apa itu ? humor. Humor adalah ciri khas yang ada pada masyarakat manusia. Di belahan dunia ini kita bisa cari dimana atau apa ada yang bisa membuktikan bahwa pada primata (kelompok kera atau gorilla) ada humor, yang kita saksikan hanyalah keseriusan. Masyarakat gorilla adalah masyarakat tanpa canda dan tawa. Kalau anda masih bisa tertawa anda masih manusia? Bagaimana kalau anda yang sering ditertawakan ? Nah, lanjut kawan saya , sama juga yang membedakan masyarakat awam dengan kaum sufi – kalau sufi dianggap sebagai kelompok minoritas ditengah mayoritas Muslim awam – juga adanya humor, yakni humor sufi.

Melalui humor kaum sufi bercerita tentang kisah-kisah yang tidak saja bisa mentertawakan diri sendiri tapi malah mampu mentertawakan seluruh kehidupan ini.
Buat kaum sufi kehidupan ini adalah sejenis senda gurau, gurauan yang tidak saja memberitahukan akan makna-makna kegenitan duniawi tapi juga berisi kejenakaan dan kesadaran diri yang ingin menyatu dengan-Nya.

Cerita sufi kadang-kadang menggelitik bahkan cenderung “nakal” tetapi kisah-kisahnya mengajarkan banyak kearifan. Kearifan memang tidak harus disampaikan dengan kening berkerut, tapi bisa juga disampaikan melalui cerita jenaka. Kejenakaan humor sufi tidak hanya dipenuhi dengan teori-teori kearifan (hikmah) teoritis, tetapi humor sufi lebih banyak mengajarkan kearifan praktis yang muncul pada sebagian besar kisah-kisah sufi yang amat masyhur.

Di pasar Mulla melihat orang-orang mengerumuni seekor burung kecil, dan mereka berani membelinya dengan harga yang tinggi.
“Tentu harga burung dan unggas sudah naik,” pikir Mulla. Dia lalu pulang ke rumah. Setelah dikejar-kejar, akhirnya dia berhasil menangkap kalkunnya yang sudah tua.
Di pasar mereka hanya berani membeli ayam itu dengan harga dua mata uang perak.
“Itu tidak adil,” kata Mulla, “Kalkun ini besarnya beberapa kali lipat dari burung yang ditawar dengan harga tinggi itu.”
“Tapi burung itu seekor betet, ia dapat berbicara.”
Mulla memandang sekilas ke arah kalkunnya yang terkantuk-kantuk di tangannya.
“Kalkun ini bisa berpikir!” kata Mulla.

Kaum sufi tidak hanya mampu bercanda dengan diri/manusia tetapi juga mampu “bercanda” dengan dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Cerita sufi adalah cerita yang banyak dihiasi tentang relasi manusia dengan manusia atau hubungan manusia dengan alam, dan dengan Tuhan. Tidak kita temukan dalam cerita-cerita sufi, para sufi menghindar dari masyarakat manusia, hidup digunung mengasingkan diri, bak para pertapa, “Tidak ada kerahiban dalam Islam”, sabda Nabi saw. Oleh sebab itulah Syamsi Tabrizi, teman sekaligus guru Rumi berkata: “Para pertapa yang hidup di gunung merupakan bagian dari gunung, bukan bagian dari manusia. Kalau dia itu manusia, dia akan hidup di antara masyarakat manusia, yang memiliki kesadaran untuk mengenali Allah. Apa yang dilakukan oleh para pertapa di gunung-gunung? Apa hubungan manusia dengan batu-batu karang dan bebatuan?”

“Beradalah di tengah-tengah manusia, maka kamu dapat sindiran.” Untuk mengungkap sesuatu yang tersembunyi diperlukan sindiran. Sindiran-sindiran inilah yang mampu mengungkap “kebenaran” tanpa menyakitkan. Dalam kerangka mengungkap kebenaran inilah humor sufi diperlukan. Kadang-kadang kebenaran yang diungkapkan oleh cerita sufi sangat menyegarkan.

Tengoklah cerita berikut ini:
Suatu hari Mulla Nasruddin meminjam jambangan bunga besar dari tetangganya. Besoknya ia mengembalikan jambangan bunga itu beserta sebuah jambangan bunga kecil.
“Yang kecil ini bukan milik kami,” kata si tetangga.
“Ya, memang,” sahut si Mulla. “Semalam jambanganmu melahirkan yang kecil ini.”
Si tetangga merasa senang dan menerima keduanya.
Beberapa hari kemudian Mulla meminjam jambangan besar lagi, tapi dia tidak mengembalikannya keesokan harinya. Ketika si tetangga datang memintanya, Mulla berkata:
“Malang benar jambangan itu, ia sudah tak ada lagi. Semalam ia telah meninggal dunia.”
“Bicara apa kamu ini?” protes si tetangga.
“Mana mungkin jambangan bunga bisa mati?”
“Yah, mana mungkin jambangan bunga bisa melahirkan, ” jawab Mulla.

Dalam pandangan Soren Keirkegaard, terkadang ketika kebenaran bertemu dengan kepalsuan hasilnya adalah kelucuan. Dalam kepalsuan yang lama tersamar humor benar-benar menjelma menjadi kelucuan yang amat sangat. Soren malah berkata “Ketika muda aku lupa tertawa. Kemudian ketika kubuka kedua mataku dan kulihat realitas . . . aku mulai bisa tertawa, dan terus tertawa sejak itu. Berbeda dengan group lawak yang mengemas tawa sebagai komuditas ekonomi. Lawakan kebanyakan mengemas tawa dengan mengeksploitasi kepalsuan-kepalsuan. Kekurangan aspek fisik manusia dianggap sebagai bahan tertawaan, dan tawa yang diciptakan tidak banyak memuat kearifan spiritual, tawa jenis ini lebih tepat dianggap sebagai ledekan terhadap ciptaan Tuhan, lebih dalam lagi tawa yang dipenuhi pengingkaran terhadap ketuhanan. Dalam bahasa Rumi tawa jenis dianggap tawa tanpa bunga.

Jalaluddin Rumi menulis :

Tawaku seperti bunga
Bukan sekedar tawa mulut
Dari tak maujud aku maujud
Dengan gembira dan penuh keriangan
Namun cinta mengajari
Cara lain untuk tertawa
Sang muallaf tertawa
Kalau beruntung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s