Indra dan Akal sebagai Fakultas Manusia dalam Sains

Posted: December 3, 2012 in Filsafat

Indra dan Akal sebagai Fakultas Manusia dalam Sains

  1. Definisi sains

Kata sains berasal dari kata science yang berasal dari bahasa latin yang digunakan untuk merjuk kepada konsep pengetahuan. Kata ini turun dari kata scio, scire.Science adalah pengetahuan. Ada beberapa jenis pengetahan yang berbeda, ilmu yang ilmiah yang kita maksud adalah ilmu eksak, pasti, seksama, dan terorganisir.Pengetahuan semacam ini juga disebut dengan pengetahuan yang sungguh-sungguh nyata (real knowledge) dan tentu saja terorganisir dengan baik.

Karena filsafat juga digunakan sebagaii lmu pengetahuan tentang dunia, maka kedua pembahasan pokok itu yaitu filsafat dan sains akan tampak memiliki tujuan yang sama, namun tentu memiliki perbedaan, dan kadang-kadang dikatakan bahwa sains itu menggambarkan sementara filsafat menafsirkan. Dituliskan oleh Mr.J. Arthur Thompson dalam bukunya yang berjudul “An Intoduction to Science” menganjurkan kepada pembaca terutama kepada pengikut pearson yang banyak sarjana lain, dan mendefinisikan science dalam kerangka sebagaiberikut :

“ Sains adalah gambaran yang lengkap dan konsisten tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan yang mungkin paling sederhana ( Simple Possible Terms)”

Jadi intinyai lmu sains adalah sejenis penjelasan tentang suatu hal untuk mengungkap berbagai kondisi (sebab-musabab) yang terjadi didalamnya. Misalnya ketika kita menjelaskan tentang demam tipus dengan memperhatikan bakteri baccilius, tentulah yang hadir secara tetap dalam menggunakan kasus tertentu. Sains juga merupakan jenis penjelasan tentang suatu hal untuk mengunkapkan contoh hal suatu hukum atau keseragaman umum.Misalnya saat kita menunjukan bahwa sebuah pendulum dengan bumi cenderung bergerak kearah masing-masing.Hal ini juga masih benar seandainya kita mengatakan bahwa usaha sungguh-sungguh sains bukanlah penjelasan terakhir tentang berbagai hal.Sains hanya menganalisis dan mengklasifikasikan hukum-hukum tersebut, dan menentukan berbagai kondisi yang terjadi atas mereka, kemudian merumuskan atau memformulasikan cara-cara mereka bertingkah laku.

  1. Hubungan Filsafat dengan Sains

Saat ini filsafat sama dengan sains dalam menemukan pengetahuan yang seksama dan terorganisir dengan baik. Tetapi filsafat tidak puas dengan definisi seperti ini. Filsafat mencari pengetahuan yang juga komprehensip, pikiran manusia tidak puas dengan semata-mata dengan menyusun rangkaian yang tetap tentang fenomena dan sekedar merumuskan cara-cara mereka bertingkah laku. Pikiran manusia sangat membutuhkan penjelasan akhir berkenaan dengan fenomena dan tingkah lakunya.Misalnya tentang sebab pertama yaitu sebab yang menggerakan atau yang merubah mereka, tujuan maksud makna serta nilai-nilainya.

Usaha menafsirkan dunia semacam ini merupakan salah satu tugas filsafat, sementara sains mengklasifikasikan, merumuskan dan menggambarkan. Seperti yang dikatakan oleh Mr Broad :

“objek  filsafat adalh mengambil alih berbagai hasil sains, menambahkan kepada hasil-hasil sains yang diambil alih tersebut dengan berbagai hasil pengalaman etis dan religius pengalaman umat manusia. Dan kemudian merefleksikannya secara keseluruhan. Harapanya dengan pengertian seperti ini kita bias mencari beberapa kesimpulan umum seperti sifat-sifat dasar atau hakekat alam semesta, kedudukan dan harapan-harapan kita dialam semesta”

Intinya semua uraian tadi adalah meyakinkan proyek ambisius filsafat, harapannya adalah untuk mendapatkan pandangan yang ringkas tentang kerja sains khusus dan menemukan makna menyeluruh yang pada masalalu telah mengiring para ilmuan atau pemikir kepada kritisme yang tidak menguntungkan filsafat. Tentu saja baik upaya untuk mendapatkan pandangan kritis dan ringkas tentang keseluruhan alam semesta maupun menafsirkan berbagai maknannya dan tidak bisa menjadikan suatu sifat kritisme berada pada dirinya sendiri.

3

Adapun tentunya adalah bahwa sains harus ditambah oleh filsafat menjadilebih penting seperti sains itu sendiri, yang mengambil lebih ke dasar misterius berbagai

symbol dan persamaan matematis. Sehingga kekuatan dirinya sendiri menjadi terbedakan dengan apa yang berada dibalik symbol-simbol tersebut. Maka dari itu, untuk memehami fenomena dunia fisik “kata Sir Arthur Eddingthon”, sains perlu mengetahui berbagai persamaan yang memenuhi symbol tetapi memenuhi hakekat yang ada tentang fenomena tersebut tidak bias disimbolisasi. Sains tidak akan menjadi relevan untuk mempertahankan perubahan ini.untuk memperjelas kepuasan intelektual yang dihasilkan oleh persamaan simbolis ini untuk menjelaskan mengapa tuntutan orang awam demi suatu penjelasan kongkrit telah dikesampingkan. Tetapi seorang filusuf bias membalas bahwa kepuasan intelektual itu sama dimana para ilmuan mengambil dari berbagai symbol dan persamaanya, sementara filusuf mengambil dari hipotesanya tentang realitas macam apa yang sesungguhnya berada dibalik symbol-simbol. Dengan demikian  sebagai filusuf Sir Arthur Eddingthon akan mengatakan bahwa kepuasan intelektual didasarkan pada fenomena secara personal dan penuh kesadaran yang dimiliki oleh kita.

  1. Sekilas tentang filsafat sains

Ada beberapa aspek dari suatu filsafat ilmu, yaitu : ontologis, epistemologis, dan axologis. Yang pertama ontologis, yakni menyangkut tentang teori ada (being) sebagai objek sains. Dalam sains barat (modern) “ada” dibatasi pada objek objek empiris. Dalam ontologis diupayakan penjelasan mengenai sifat-sifat objek, dan hubungannya dengan subyek. Benar-benar adakah yang disebut realitas objektif yang terpisah dari subyeknya? Atau “obyek” itu hanya sekedar bentuk tak konkret persepsi subyek? Ataukah pengetahuan merupakan hasil persentuhan obyek (real) dan interpretasi subyek dan dengan demikian tak sepenuhnya terpisah dsb.

Pernyataan pernyataan diatas membawa kita kepada aspek epistimologis. Yakni teori pengetahuan yang menyangkut fakultas-fakultas manusia sebagai alat untuk mencapai objek  dan cara atau proses sampainya subjek ke objek. Epistimologis mempelajari sifat-sifat dan cara fakultas-fakultas manusia tersebut, sedangkan cara metode ini bersifat metode keilmuan (scientific method).

Indra dan akal adalah fakultas-fakultas manusia yang diakui oleh sains modern, gabungan antara kedua fakultas inilah yang membentuk metode keilmuan karna akal merefleksi pengalaman empiris.

Yang terakhir adalah metode axiology, yang menilai dari maslahat – mudharatnya pengembangan sains. Dengan demikian axiology tidak terpisah dari nilai – nilai (values). Dalam sains modern ini nilai sains akan bersifat pragmatis utilitarian dan mengambil bentuk pemuasan kebutuhan – kebutuhan matrealistis atau nilai sains adalah ketidak adaan nilai itu sendiri, (sains untuk sains).

Berkenaan dengan pembahasan sains modern, dampaknya adalah imperialism epistemologis “dampak tak terlihat” sains modern ini muncul diantaranya pada pola pikir manusia, dan pada giliranya tentu saja pada prilakunya. Dan ini tampak pada dominasi rasionalisme dan empirisme, pilar utama metode keilmuan  dalam penilaian manusia  atas berbagai realitas, baik relitas sosial dan individual.

Adapun yang perlu dicatat hal pertama adalah melahirkan sains modern yaitu gagasan pada masa renensans, adalah bidang astronomi, dan pada bidang inilah barat mulai merumuskan pandangan dunianya dan tokoh utamanya adalah Niccilas Copernicus. Dalam menyusun konsep dunianya ia membuang semua prakonsepsi yunani, bahwa bumi tak sempuna dan langit adalah sempurna. Ia memandang alam adalah sebagia mesin besar. Tuhan menciptakannya kemudian mataharilah sebagai pusat alam semestayang mengatur gerakan – gerakan dialam dengan mekanisme tertentu.

  1. Perbedaan ilmu pengetahuan dengan filsafat

Ilmu pengetahuan membatasi diri sendiri untuk mempelajari beberapa aspek realitas, sementara filsafat mengisi dirinya dengan sifat tertinggi dari realitas. Dengan sedikit ilustrasi dengan sedikit akan menjelaskan tentang dan dimaksudkan dengan filsafat dan ilmu pengetahuan ini.

Sebagai contoh yaitu ilmu matematika, adalah ilmu eksak yang menyelidiki kedalam abstraksi ruang dan bilangan. Baik matematika eucledian maupun matematika yang lain, yang dirasa perlu mengembalikan ide atau konsep tertentu serta mengambil bahasa simbol dan angka guna menggambarkan suatu konsep. Setelah melakukan semua ini, kita ikuti konsekuensi logis atau deduksi konsep kita, dan kita tetapkan suatu sistem ukuran bilangan yang siap dibuat mengenai ilmu bilangan dan ruang yang berguna sekali bagi tingkah laku hidup kita. Serta sebagai penyelidikan bagi kita akan disiplin ilmu.

Dan kita menjadi dasar akan hakekat realitas dari suatu ruang bilangan dalam suatu cara yang kita tidak mungkin dibuat yang lain. Kita tetapkan sistem berpotingan yang baik yang hasil perolehannya sedikit ajaib. Dan semuanya ini mungkin sebab dari matematika telah ada, dan simbol tanda-tanda yang membantu kita  mendapatkan pemikiran logis pada suatu perluasan dimana ilmu pengetahuan lain tidak mungki bisa mencapainya.

  1. Kaitan ilmu eksak dengan filsafat
  1. Sesuai dengan hipotesa yang diberikan, ilmu matematika merupakan ilmu deduktif.

Matematika merupakan simbol ilmu pengetahuan yang dapat dilihat, dan matematika sama dekatnya antara mistisme dengan ilmu-ilmu yang ada. Tetapi keseluruhan matematika terdapat aksioma dan dalil serta kebenaran kebenaran lain (yang dianggap sebagai kebenaran) yang telah kita tempatkan sebelamnya. Adapun studi matemaika merupakan hakekat realitas atau kebenaran yang mendasari ruang dan bilangan yang sesuai dengan ide atau konsep ruang yang dianggap pasti.

Jika ide dan konsep ini tidak nyata, melainkan hanya nampak nyata saja, maka semua deduksi kita sama, artinya hanya nampak nyata saja. Karena matematika adalah sejenis tipuan intelektual yang mana ahli matematika melakukan atau nampak melakukan perbuatan intelektual yang ajaib. Meskipun begitu, tetap saja ahli matematika tidak akan mampu mengungkapkan realitas yang tertinggi dari ide dan konsepnya.

  1. “Imajiner” dalam matematika

Bilangan lain dan bilangan diatas yang serupa yang tidak bisa disusun menjadi bilangan nyata disebut bilangan imajiner. Imajiner-imajiner ini sangatlah berguna, sebab tanpa imajiner ini tidak akan ada ilmu teknik dan penelitian dalam bidang arus listrik. Tetapi imajiner ini tidak akan sesuai dengan beberapa realitas yang kita tempatkan atau untuk beberapa bilangan yang dapat kita hitung. Dengan disetujuinya kaidah aljabar, kuadrat dari bilangan-bilangan baik positif maupun negatif maka hasilnya pun akan selalu positif, misalnya :

(+5) x (+5) = +25

(-5) x (+5) = +25

Jadi, akar kuadrat dari 25 (√25) bisa saja +5 atau mungkin -5, tetapi kita tidak dapat membayangkan bilangan itu baik positif maupun negatif, dimana ketika dikalikan dengan bilangan itu sendiri yang akan memberikan hasil negatif.

Tetapi yang menjadi masalah, baik aljabar maupun geometri tidak melakukan atau tidak menceritakan kepada kita sesuatu tentang sifat atau hakikat  bilangan atau ruangan. Penyelidikan tentang sifat tertinggi dari relitas adalah termasuk dalam bidang filsafat.

  1. Biologi dalam filsafat

Biologi dalam pengertiannya yang sempit dan lebih tepat adalah ilmu umum tentang alam, kontinuitas, dan evolusi dari suatu organisme. Biologi adalah satu dari sekalian ilmu yang sangat berguna , karna secara langsung telah berguna dalam hal peningkatan dan penambahan  persediaan makanan manusia dan dalam menunjang kehidupan manusia telah dikembangkan pemeliharaan ternak dan pertanian bahan pangan. Oleh sebab itu biologi dapat dikatakan ilmu yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Karena mempelajari sedikit banyak tentang alam kehidupan dan menjadi luas secara tak terbayangkan sebelumnya.

Penelitian biologi menuntun pada cara-cara praktis untuk melindungi kesehatan dan mencegah penyakit dengan pertolongam alam itu sendiri, dan tidak hanya menggunakan obat-obatan. Dan tentunya hal tersebut memperpanjang kehidupan manusia dan hal yang lainya, sebab hidup pada masa yang akan datang lebih menyenangkan dari pada hidup dimasa lampau.  Oleh sebab itu mungkin biologi secara benar dengan bangga dan mengklaim telah menyelidiki kehidupan. Sebab tidak ada ilmu lain yang mampu berbuat seperti ilmu biologi itu sendiri.

  1. Dasar – dasar fisika

Dasar daar fisika ini bersifat teori, dan objek pembicaraanya ialah benda wujud, karena ia terdapat dalam benda perubahan dan juga ia mempunyai diam dan bermacam – macam gerak. Ilmu fisika memiliki dasar yang perlu dibuktikan kebenaranya oleh orang yang menyelami ilmu ketuhanan, dasar-dasar tersebut adalah :

  1. Benda (maddah), shurah (form), dan tiada (adami)
  2. Gerak dan diam
  3. Zaman
  4. Tempat dan kekosongan           e. Terbatas dan tidak terbatas

Menurut aristoteles, benda, shurah ada dan tiada adalah benda yang tersusun dari 3 hal yaitu bahannya shurah dan tiada. Sebelum terjadinya shurah, meskipun suatu bilangan benda itu mengandung 2 unsur yang berbeda. Pertama adalah unsur yang tetap meskipun terjadi perubahan, kedua adalah kebalikan unsur tersebut yaitu terjadi dari adanya perubahan.

Ibnu sina dan al-farabi pun mengambil teori seperti aristoteles, yaitu dengan mengatakan bahwa benda alam terdiri dari (maddah) sebagai tempat dan juga dari (shurah) sebagai perkara yang bertempat padanya. Pertalian maddah dengan shurah ini seperti pertalian patung dengan perunggu, jadi benda alam mempunyai tambahan (perkara yang mengikutinya) yaitu arradh (sifat) seperti gerak, diam dll.

  1. Relatifitas ilmu pengetahuan dan sikap ilmiah dalam filsafat
  1. Relativitas ilmu pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah bukan sesuatu yang sudah selesai dipikirkan. Ia merupakan suatu hal yang tidak mutlak kebenaran nya yang dihasilkanya berifat relatif (nisbi), positif terbatas. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai alat lain dalam menguak rahasia alam kecuali indra dan kecerdasan, termasuk disini peralatan yang diproduksi oleh otak manusia. Karena akal merupakan satu bilangan dari rohani manusia, sedangkan keseluruhan rohani itu sendiri merupakan bagian dari manusia.

Jadi keterangan diatas memberikan pemahaman, bahwa seperti kebenaran ilmu pengetahuan yang bersifat positif dan relatif. Karena bersandar pada kemampuan manusia semata, kebenaran filsafat juga bersifat relatif, subjektif, alternatif, dan spekulatif karena ia bersandar pada kemampuan akal juga.

Kenyataan bahwa filsafdat bersifat relatif adalah karena tidak ada satu pun yang bersifat sempurna. Jika suatu masalah tidak terjasab oleh ilmu pengetahuan, ilmu filsafat pun terdiam untuk memberikan jawaban dugaan, spekulasi, terkaan, sangkaan dan pikiran, maka manusia berada dalam kebingungan. Akhirnya sebagian instansi mengambil jawaban dari instansi yang lebih tinggi dari ilmu pengetahuan dan filsafatlebih menentramkan jiwa yaitu agama.

Adapun hasil penelitian, penyelidikan, dan percobaan ilmu pengetahuan lama akan diisi oleh penelitian, penyelidikan dan percobaan baru,yang dilakukan oleh metode-metode baru dengan perlengkapan yang lebih sempurna. teori einstein yang didasarkan atas studi percobaan-percobaan Michelsov dan Morley misalnya menyisikan ketentuan fisik newton. Teori relativitas Einstein ini pun bukanlah kebenaran mutlak, ia tetap terbuka terhadap berbagai kritik kebenaran ilmiah seorang ilmuan, tidak bergantung pada siapa yang menyempatkannya, melainkan ilmu sendiri yang akan mengoreksinya.

  1. Sikap ilmiah

Berkaitan dengan kebenaran ilmiah seorang ilmuan, ada beberapa sikap ilmiah ilmuan dalam mempelajari, meneruskan dan menerimaserta menolak atau mengubah suatu ilmu, yaitu :

  1. Skeptis : meragukan setiap ilmu pengetahuan, tetapi didasari hasrat, niat,       minat untuk mencari jawaban yang memuaskan dari bagian persoalan.
  2. Objektif : menghindari subjektifiyas emosi, prasangka dan memihakkan.
  3. Berani dan intelek : berani mengatakan kebenaran dan pantang mundur adalah tekanan.
  4. Terbuka : kesediaan untuk sadar diri bahwa segala sesuatunya tidak ada yang sempurna, dan pasti memiliki dan memiliki kesalahan dalam ilmu pengetahuannya itu sendiri.
  5. Sederhana : rendah hati dan toleran terhadap sesuatu yang diketahui atau belum.

BAB III

KESIMPULAN

Kata sains berasal dari kata science yang berasal dari bahasa latin yang digunakan untuk merjuk kepada konsep pengetahuan. Kata ini turun dari kata scio, scire.Science adalah pengetahuan. Ada beberapa jenis pengetahan yang berbeda, ilmu yang ilmiah yang kita maksud adalah ilmu eksak, pasti, seksama, dan terorganisir.Pengetahuan semacam ini juga disebut dengan pengetahuan yang sungguh-sungguh nyata (real knowledge) dan tentu saja terorganisir dengan baik.

Filsafat juga digunakan sebagi ilmu pengetahuan tentang dunia, maka kedua pokok pembahasan ini (filsafat dan sains) akan tampak memiliki tujuan yang sama, namun tentunya memiliki perbedaan, dan kadang-kadang sains itu menggambarkan sementara, sedangkan filsafat bersifat menafsirkan.

Dari kedua pokok bahasan ini maka disimpulkan bahwa ada kaitannya satu sama lain, yang mana sains bersifat menggambarkan sesuatu yang telah ditelusuri, ditelaah dan dipelajari dari semua sisinya, dan filsafat itu pun bersifat menafsirkan yakni menafsirkan pemikiran sains dalam suatu teori atau pembahasan yang lebih memikirkan kepada logika dan akal pikiran manusia (rasio).

DAFTAR PUSTAKA

–          George Thomas White Patrick, pengantar singkat ilmu filsafat, Intelekia pratama, Bandung, 2008

–          Faturrahman Djamil, filsafat hukum islam, logos wacana ilmu, Jakarta, 1997

–          H.G. Sarwar, filsafat alqur’an,Raja grafindo persada, Jakarta, 1994

–          Atang Abdul Hakim dkk, filsafat umum dari metodologi sampai teofilosofi, Pustaka setia, Bandung, 2008

–          Mahdi gulsani, filsafat sains menurut al-qur’an, IKAPI, Bandung, 1996

–          Syeh Muhammad Naquib Al-Atas, islam dan filsafat sains, Mizan, Bandung, 1995

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s