Konseling Agama

Posted: November 22, 2012 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      LatarBelakang

Bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang diberikan oleh konselor kepada konseli dalam aspek psikologi untuk memahami diri, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan mengarahkan diri. Sehingga, dalam praktiknya bimbingan dan konseling akan melibatkan komunikasi antara dua pihak yaitu konselor dan konseli.

Dengan demikian, hang yang perlu dikuasai konselor adalah menguasai keterampian dalam merespon konseli dengan teknik komunikasi yang benar dan sesuai dengan keadaan konseli saat itu. Pemberian respon melalui komunikasi  yang baik adalah dengan pernyataan-pernyataan verbal dan non verbal yang dapat menyentuh, merangsang, dan mendorong keterbukaan konseli dalam menyatakan pikiran, perasaan, dan pengalamannya.

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dijelaskan diatas maka dapat dikemukakan rumusan masalah yaitu sebagai berikut:

  1. Apa pengertian dari komunikasi dalam konseling ?
  2. Apa saja keterampilan dalam konseling ?
  3. Apa saja teknik hubungan dalam komunikasi konseling ?
  4. bagaimana teknik penggunaan komunikasi konseling ?

  1. C.      Metode Penulisan

Metode yang penulis gunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan, yaitu sebuah metode dengan mengumpulkan keterangan-keterangan dari referensi.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.      Pengertian Komunikasi dalam Konseling

Hubungan Bimbingan dan konseling merupakan hubungan yang membantu antara konselor sebagai ahli dengan konseli, agar konseli mampu mencapai perkembangan. Hubungan antara konselor dan konseli terjadi dengan suasana keakraban, mengacu pada perkembangan potensi, dan pemecahan masalah yang dialami konseli disertai dengan komitmen keduanya. Hubungan tersebut terjalin atas persetujuan bersama, dengan kerjasama, dan konselor harus dapat menunjukkan pribadi yang baik.

Untuk menciptakan hubungan yang baik antara konselor dan konseling diperlukan komunikasi yang baik antara keduanya. Komunikasi merupakan landasan bagi berlangsungnya suatu konseling. Komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses pemindahan informasi antara dua orang manusia atau lebih dengan menggunakan simbol-simbol bersama. Komunikasi sekurang-kurangnya melibatkan dua partisipan, yaitu pemberi dan penerima. Komunikasi akan lebih efektif apabila tercapai saling pemahaman, yaitu pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh penerima. Secara umum proses komunikasi sekurang-kurangnya mengandung lima unsur yaitu pemberi, pesan, media, penerima, dan umpan balik.

Dengan demikian, dalam praktiknya hubungan konseling membutuhkan komunikasi yang baik antara konselor dan konseli. Dalam hal ini,  konselor dituntut untuk mampu berkomunikasi secara efektif untuk menunjang palaksanaan konseling. Maka, salah satu keterampilan yang diperlukan oleh konselor adalah keterampiilan berkomunikasi secara dialogis khususnya dengan klien.

Komunikasi konseling adalah komunikasi dua arah antara konselor dan konseli dalam membahas satu masalah tertentu dengan tujuan tertentu. Dalam prosesnya, antara konselor dan konseli bertujuan mencapai pemahaman dan dapat membuat keputusan.

Komunikasi konseling pada prinsipnya menekankan bagaimana konselor mampu mengembangkan hubungan konseling yang ditandai keakraban, keharmonisan, kesesuaian, kecocokkan, dan saling tarik menarik (terbentuk rappart), melalui keterampilan-keterampilan komunikasi konseling yang dimilikinya.

  1. B.       Keterampilan Komunikasi Konseling

Beberapa keterampilan berkomunikasi dalam konseling yang harus dikuasai oleh konselor baik verbal maupun nonverbal adalah sebagai berikut :

  1. 1.        Respon attending

Kemampuan respon attending meliputi :

  1. Perilaku attending

Perilaku attending adalah perilaku penampilan yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan yang harus dikuasai konseli. Perilaku attending yang baik merupakan kombinasi ketiga komponen ini, sehingga akan memudahkan konselor untuk membuat konseli terlibat pembicaraan dan terbuka. Attending yang baik akan meningkatkan harga diri konseli, menciptakan suasana aman, memudahkan ekspresi perasaan konseli secara bebas. Contoh dari perilaku attending adalah :

v  Muka : ekspresi wajah tenang, senyum, ceria

v  Melakukan anggukan jika setuju

v  Posisi tubuh : agak condong ke arah konseli, jarak perlu diperhatikan tidak terlalu jauh atau dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan.

v  Tangan : variasi gerakan sesuai dengan ucapan spontan dan berubah untuk menekankan ucapan atau sebagai isyarat.

v  Mendengarkan aktif penuh perhatian, menunggu ucapan konseli hingga selesai, tidak memotong pembicaraan konseli, diam, dan menitik beratkan perhatian pada lawan bicara.

  1. Bertanya

Pada proses konseling, kebanyakan konselor kesulitan untuk membuka percakapan dengankonseli. Untuk memudahkan membuka percakapan, maka konselor harus memiliki keterampilanbertanya melalui pertanyaan terbuka yang memungkinkan munculnya pernyataan-pernyataanbaru dari konseli, melalui kalimat “apa sebabnya” dan “mengapa sampai hal itu bisa terjadi”, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Pertanyaan konselor dapat juga bersifat tertutup untuk menjernihkan atau memperjelasinformasi dengan memfokuskan pembicaraan konseli agar memperoleh  informasi tertentu, misalnya konselor bertanya “anda tinggal dimana ?”.

  1. Minimal encouragement (dorongan minimal)

Upaya utama konselor adalah agar konseli selalu terlibat dalam pembicaraan dan dirinya terbuka,sehingga pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan minimal adalah suatu dorongan langsungyang singkat terhadap apa yang telah dikatakan konseli. Respon yang diberikan oleh konselorsesedikit mungkin bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli berbicara lebih lanjut.Misalnya dengan mengatakan “terus …”, “lalu…” , “ya…” dan dapat juga dengan isyarat anggukan.

Dorongan minimal dilakukan secara selektif, pada saat konseli kelihatan akan mengurangi atau menghentikan pembicaraan atau kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan.

  1. Klarifikasi

Klarifikasi adalah keterampilan konselor untuk menjernihkan ucapan-ucapan konseli yang kurang jelas,samar-samar, dan agak meragukan.

Tujuan dari klarifikasi adalah:

v  Memeriksa kembali isi pesan konseli

v  Memperjelas pesan konseli

v  Memeriksa ketepatan pesan konseli dengan persepsi konselor .

  1. Refleksi perasaan

Refleksi perasaan merupakan upaya konselor memantulkan kembali perasaan, pikiran, danpengalaman yang diungkapkan oleh konseli melalui pernyataan, intonasi dan sikap konseli. Ada tiga jenis refleksi, yaitu ; refleksi perasaan, refleksi pikiran, dan refleksi pengalaman.

Tujuan adanya refleksi adalah :

v  Konseli dapat mengungkapkan diri secara luas.

v  Bertanya untuk membuka percakapan

v  Konselor dapat mendalami masalah yang dialami oleh konseli

v  Pertanyaan-pertanyaan terbuka yang dapat digunakan dimulai dengan kata-kata: Apakah, bagaimana, mengapa dan lainnya.

  1. Menangkap pesan utama (paraphrasing)

Konselor perlu menangkap pesan utama dari ide, perasaan, dan pengalaman yang dikemukakankonseli. Kemudian menyampaikan kembali kepada konseli dengan bahasa sederhana dan mudahdifahami konseli. Hal ini perlu karena seringkali konseli mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalamannya berputar-putar. Biasanya digunakan kata awal “adakah…” , dan “nampaknya…”

  1. Empati

Empati merupakan kemampuan konselor untuk memahami permasalahan konseli, melihat melalui sudutpandang konseli, peka terhadap perasaan-perasaan konseli, merasa dan berfikir bersama konselidan bukan untuk atau tentang konseli, sehingga konselor mengetahui bagaimana konselimerasakan perasaannya. Selain itu, konselor dapat memahami permasalahan konseli tidak hanyapada permukaan, tetapi lebih dalam. Empati dilakukan bersamaan dengan perilaku attending.

Tujuan :

v  Mendorong konseli mengekpresikan perasaan positif maupun perasaan negatif tentangsuatu hal.

v  Membantu konseli untuk lebih merasakan perasaannya secara mendalam agar lebih sadarakan masalah yang belum terselesaikan.

v  Membantu konseli untuk mengenali perasaan-perasaan yang mendominasi mereka

v  Konselor menggunakan pertanyaan terbuka, sehingga memberi peluang kepada konseli untuk memberikan jawaban yang panjang dan luas.

Untuk melakukan empati, konselor harus mampu mengosongkan perasaan dan pikiran egois,memasuki dunia konseli, dan melakukan empati primer contohnya dengan mengatakan :

v  Saya dapat memahami pikiranmu

v  Saya merasakan kepedihan kamu.

v  Saya mengerti keinginanmu

Kemudian melakukan empati tingkat tinggi, contohnya dengan mengatakan, “setelah mendengar ungkapanmu, saya menjadi mengerti mengapa kamu merasa kecewa,dan saya ikut terluka dengan pengalamanmu.”

  1. Attending summirization (kesimpulan sementara)

Attending summirizationdilakukan konselor bersama konseli setiap periode waktu tertentu, agar diperolehpemahaman terhadap apa yang sudah dibicarakan.

Tujuandilakukannya attending summirization adalah :

v  Memberi kesempatan konseli untuk mengambil feedback dari hal yang sudah dibicarakan.

v  Menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap.

v  Meningkatkan kualitas diskusi.

v  Mempertajam atau memperjelas fokus wawancara konseling.

  1. 2.        Kompetensi Verbal Influensing

Kompetensi verbal influensing meliputi beberapa keterampilan sebagai berikut:

  1. Pemberian pertanyan lanjut (probing lanjut), yaitu upaya konselor menyadarkan konseli dengan proses berpikir asosiasi (korteks asosiatif).
  2. Penelaahan reaksi potensi emosional (expression of feeling),yaitu usaha merangsang otak /sistem limbik agar berfungsi mengorganisir kelancaran berpikir konseli dalam rangka mengaktualisasikan diri.
  3. Penelaahan potensi konseli,yaitu rangsangan terhadap potensi otak kiri dan otak kanan secara terpadu untuk diaktifkan.
  4. Mendekatkan diri (disclosing self), yaitu kemampuan konselor untuk  membuka informasi-informasi personal dengan tujuan membuat konseli menjadi lebih terbuka. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat awal petemuan konseling untuk menciptakan kenyamanan, perasaan aman, perasaan diterima, dan menumbuhkan kesediaan konseli untuk mengikuti konseling.
  5. Memimpin (leading), yaitu usahakonselor yang harus memimpin arah pembicaraan sehingga mencapai tujuan. Tujuan keterampilan ini adalah :

v  Konseli tidak menyimpang dari fokus pembicaraan.

v  Arah pembicaraan terfokus pada tujuan konseling

  1. Memudahkan (facilitating), adalah suatu keterampilan membuka komunikasi agar konseli mudah berbicara dengan konselordan menyatakan permasalahannya secara bebas dan memberdayakan konseli untuk mencapaitujuan sebagai berikut :

v  Membantu konseli untuk bersikap terbuka terhadap konflik.

v  Membantu konseli untuk mengatasi hambatan berkomunikasi langsung.

v  Menciptakan situasi yang aman dan memberikan keberanian bagi konseli untuk mengambilresiko.

  1. Pemberian informasi (giving information), dilakukan oleh konselor pada saat konselimembutuhkan informasi untuk memperjelas pengetahuan dan pemahamannya tentang berbagaihal, baik itu informasi mengenai tujuan, proses dan kode etik proses konseling yang akan diikutikonseli, maupun informasi lainnya. Jika konselor kurang mengusai informasi yang dibutuhkan konseli, maka konselor  dapat mengarahkan konseli mencari langsung kepada sumbernya.
  2. Konfrontasi, merupakan teknik komunikasi yang menantang konseli, karena adanya ketidaksesuaian yang terlihat antara pernyataan dan tingkah laku konseli, karena terjadiinkonsistensi antara perkataan dan perbuatan, ide awal dengan ide berikutnya.Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar konfrontasi dapat terlaksana secara efektif:

v  Adanya kesenjangan yang diungkapkan konseli.

v  Konselor memahami masalah konseli secara mendalam.

v  Membina  keakraban antara konselor dan konseli secara mendalam.

v  Bertujuan meredakan ketegangan yang ada dalam batin konseli.

v  Mendorong konseli mengadakan penelitian secara jujur.

v  Meningkatkan potensi konseli.

v  Membawa konseli pada kesadaran adanya diskrepansi, konflik atau kontradiksi dalam dirinya.

v  Disampaikan dengan bahasa yang lugas; ringkas, tepat, jelas mudah dipahami konseli. Tidak menyalahkan atau menilai, disertai perilaku attending, disampaikan pada waktu yang tepat

  1. Memberi penguatan, yaitu sikap konselor yang merangsang konseli untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkah laku yangpositif dengan cara memberi pujian, penghargaan dan mendengarkan pembicaraan konselidengan sungguh-sungguh.
  2. Diam adalah sikap yang amat penting. Diam bukan berarti tidak ada komunikasi, akan tetapi melakukankomunikasi non verbal. Diam yang paling ideal antara 5-10 detik dan selebihnya digantidengan dorongan minimal.Tujuan dari sikap ini adalah:

v  Menunggu konseli berpikir

v  Proses jika konseli bicara berputar-putar atau berbelit-belit

v  Menunjang perilaku attending dan empati sehingga konseli bebas berbicara

  1. menyimpulkan

Pada akhir pelayanan konseling, konselor dapat membantu konseli untuk menyimpulkan hasilpembicaraan yang menyangkut hal-hal berikut :

v  Bagaimana keadaan konseli saat ini terutama menyangkut tema tertentu.

v  Memantapkan rencana konseli yang akan datang.

v  Pokok-pokok yang akan dibicarakan pada sesi berikutnya.

  1. C.     Teknik-Teknik Hubungan Dalam Konseling

Hubungan antara konselor dengan klien merupakan inti dari proses konseling. Oleh karena itu, para konselor hendaknya menguasai berbagai teknik dalam menciptakan hubungan.

  1. Teknik Rapport

“ En rapport “ mempunyai makna sebagai suatu kondisi saling mamahami dan mengenali tujuan bersama. Tujuan utama teknik rapport adalah untuk menjembatani hubungan antara konselor dengan klien, sikap penerimaan bagi minat yang mendalam terhadap klien dan masalahnya. Dalam rapport ini akan tercipta suasana hubungan yang akrab, yang ditandai dengan saling mempercayai. Beberapa teknik yang digunakan untuk mencapai rapport antara lain melalui :

  • Pemberian salam yang menyenangkan
  • Topik pembicaraan yang sesuai
  • Susunan ruangan yang menyenangkan
  • Sikap yang ditandai dengan kehangatan emosi, realisasi tujuan bersama, menjamin kerahasiaan, dan kesadaran terhadap hakikat klien secara alamiah.
  1. Refleksi Perasaan

Refleksi perasaan merupakan suatu usaha konselor untuk menyatakan dalam bentuk kata-kata yang segar dan sikap esensial. Refleksi ini merupakan teknik penengah yang bermanfaat untuk digunakan setelah hubungan permulaan dibuat dan sebelum pemberian informasi dan tahap interpretasi dimulai. Perasaan-perasaan yang diekspresikan dapat dikelompokan kedalam tiga kategori yaitu positif, negative dan ambivalen.

  1. Teknik-teknik penerimaan

Teknik penerimaan merupakan cara bagaimana konselor melakukan tindakan agar klien merasa diterima dalam proses konseling. Dalam teknik penerimaan, ada tiga unsure yaitu : ekspresi air muka, tekanan suara, jarak dan perawakan.

  1. Teknik Menstrukturkan

Yang dimaksud dengan teknik structuring atau menstrukturkan adalah proses penetapan batasan oleh konselor tentang hakikat, batas-batas dan tujuan proses konseling pada umumnya dan hubungan tertentu pada khususnya.

  • Batas-batas waktu baik dalam satu individu, maupun seluruh proses konseling.
  • Batas-batas tindakan baik konselor maupun klien.
  • Batas-batas peranan konselor.
  • Batas-batas proses atau atau prosedur.
  • Strukturing dalam nilai proses.
  1. Diam sebagai suatu teknik
  • Penolakan atau kebingungan klien.
  • Klien atau konselor telah mencapai akhir suatu ide.
  • Kebingungan yang didorong oleh kecemasan atau kebencian.
  • Klien mengalami perasaan sakit dan tidak siap untuk berbicara.
  • Klien mengharapkan sesuatu dari konselor.
  • Klien sedang memikirkan apa yang dikatakan.
  • Klien baru menyadari kembali dan ekspresi emosional sebelumnya.
  1. Teknik-teknik memimpin

Penggunaan istilah memimpin dalam proses konseling mempunyai dua arti. Pertama, menunjukkan keadaan dimana konselor berada didepan atau disamping pikiran klien. Kedua, keadaan dimana konselor mengarahkan pemikiran klien kepada penerimaan perkataan konselor.

  1. Memberikan Jaminan

Hakikat memberikan jaminan ini adalah semcam pemberian ganjaran dimasa yang akan datang. Metode ini dapat mencocokkan system kepercayaan klien, dapat mengurangi rasa cemas dan memperkuat pola-pola tingkah laku yang baru.

  1. Keterampilan Mengakhiri

Keterampilan mengakhiri wawancara konseling merupakan teknik hubungan dalam proses konseling. Mengakhiri wawancara dapat dilakukan dengan cara :

  • Mengatakan bahwa waktu telah habis.
  • Merangkum isi pembicaraan.
  • Menunjukkan kepada pertemuan yang akan datang.
  • Berdiri.
  • Isyarat gerak tangan.
  • Menunjukkan catatan-catatan singkat.
  • Memberikan tugas-tugas tertentu.

  1. D.      Penggunaan Teknik Komunikasi dalam Konseling

Proses konseling terdiri atas tiga tahapan, yaitu: (1) tahap awal atau tahap mendefinisikanmasalah, (2) tahap pertengahan disebut juga tahap kerja, dan (3) tahap akhir atau tahap perubahandan tindakan (action).Setiap tahapan konseling memiliki teknik-teknik komunikasi tertentu. Adapun teknik-teknik yang dapat digunakan pada setiap tahapan konseling, adalah sebagai berikut:

No Tahap awal

(definisi masalah)

Tahap pertengahan

(tahap kerja)

Tahap akhir

(action)

1 Attending Menyimpulkan sementara Menyimpulkan
2 Mendengarkan Memimpin Merencanakan
3 Empati Memfokuskan Menilai
4 Refleksi Kinfrontasi Mengakhiri konseling
5 Bertanya Menjernihkan
6 Menangkap pesan utama Memudahkan
7 Dorongan minimal Mengarahkan
8 Dorongan minimal
9 Diam
10 Mengambil inisiatif
11 Mengambil nasihat
12 Memberi informasi
13 Menafsirkan

BAB III

KESIMPULAN

Komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses pemindahan informasi antara dua orang manusia atau lebih dengan menggunakan simbol-simbol bersama. Komunikasi sekurang-kurangnya melibatkan dua partisipan, yaitu pemberi dan penerima. Komunikasi akan lebih efektif apabila tercapai saling pemahaman, yaitu pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh penerima. Secara umum proses komunikasi sekurang-kurangnya mengandung lima unsur yaitu pemberi, pesan, media, penerima, dan umpan balik.

Komunikasi konseling adalah komunikasi dua arah antara konselor dan konseli dalam membahas satu masalah tertentu dengan tujuan tertentu. Dalam prosesnya, antara konselor dan konseli bertujuan mencapai pemahaman dan dapat membuat keputusan.

Keterampilan Komunikasi Konseling terbagi dua, yaitu :

  1. Respon attending

Perilaku attending adalah perilaku penampilan yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan yang harus dikuasai konselor.

  1. Kompetensi verbal influencing

Adapun Teknik-teknik hubungan dalam konseling, yaitu :

  1. Teknik Rapport
  2. Refleksi Perasaan
  3. Teknik-teknik penerimaan
  4. Teknik Menstrukturkan
  5. Diam sebagai suatu teknik
  6. Teknik-teknik memimpin
  7. Memberikan Jaminan
  8. Keterampilan Mengakhiri

Penggunaan Teknik Komunikasi dalam Konseling

Proses konseling terdiri atas tiga tahapan, yaitu: (1) tahap awal atau tahap mendefinisikanmasalah, (2) tahap pertengahan disebut juga tahap kerja, dan (3) tahap akhir atau tahap perubahandan tindakan (action).Setiap tahapan konseling memiliki teknik-teknik komunikasi tertentu.

Daftar Pustaka

v  Hikmawati, Fenti. 2011. “ Bimbingan Konseling “ Jakarta : Raja Grafindo Persada

v  PDF Bimbingan Konseling

v  Salahudin, Anas. 2010. “ Bimbingan & Konseling “ Bandung : Pustaka Sedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s