Guru Terkecil

Posted: March 5, 2013 in Uncategorized

Saat usianya menginjak 18 tahun, pria bernama Azad Singh ini kerap dikira masih bayi, bahkan dikatakan pemain sirkus karena tubuhnya yang mini. Namun hal itu tak mematahkan semangatnya untuk mengejar mimpi menjadi seorang guru.

Azad yang kini berusia 22 tahun terjebak dalam tubuh kecilnya akibat penyakit genetik langka yang dimilikinya sejak lahir. Penyakit ini menyebabkan proses pertumbuhannya sudah mandek ketika usia pemuda ini baru lima tahun.

Kendati begitu, Azad berhasil menjadi guru pelajaran komputer di sebuah sekolah khusus perempuan di Haryana, India. Tentu saja Azad jauh lebih pendek daripada murid-muridnya karena tingginya hanyalah 3 kaki dan berat badannya sekitar 18 kilogram.

Saat mengajar, Azad yang dipanggil ‘Chotu’ yang berarti ‘Guru Kecil’ ini berdiri di atas sebuah meja agar ia dapat menjangkau papan tulis. Meski berpenghasilan 10.000 rupee per bulan (Rp 1.766.866), Azad tetap harus mengenakan pakaian dan sepatu untuk anak-anak yang lebih pas untuk badannya. Read the rest of this entry »

Tanpa disadari, ada berbagai hal yang membuat Anda masih juga sendiri dalam waktu yang lama. Jika Anda tak ingin lagi berstatus single, sebaiknya hindari 4 alasan yang membuat Anda sulit mendapatkan cinta, seperti dilansir She Knows.

1. Anda Berhenti Mencari
Pasangan tidak akan datang menghampiri Anda semudah di film-film romantis komedi. Untuk itu Anda juga perlu berusaha untuk mendapatkan hati pria yang diidamkan. Jika belum mempunyai incaran, jangan ragu menerima ajakan teman untuk berlibur, bersenang-senang ke pesta, ataupun jalan-jalan santai. Siapa tahu pasangan Anda kelak adalah orang baru yang ditemui di tempat baru. Perluaslah jaringan pertemanan Anda untuk bantu temukan si Mr. Right.

2. Anda Terlalu Stres
Meskipun Anda berstatus single, namun jangan buat diri sendiri menjadi tertekan dengan status tersebut. Justru beberapa hal baik datang ketika Anda tidak terlalu mengharapkannya. Terlalu fokus pada gebetan yang tak kunjung memperhatikan Anda juga dapat membuat stres. Cobalah untuk santai dan nikmati hidup Anda sampai akhirnya bertemu dengan orang yang tepat. Read the rest of this entry »

Gambar

Dari sebuah toko kaset di Jalan Kartini, salah satu sudut kota Bekasi, terdengar lantunan Maulid yang mendayu berlanggam hadhrami, berirama khas Hadramaut. Syair tersebut, meski sangat populer, tak cukup akrab di telinga muhibin, yang lebih sering mendengar maulid Simthud Durar, yaitu Maulid Diba’. Sang pelantun seorang habib bersuara emas asal Bekasi yang sering kali melantunkannya tanpa sedikit pun membaca. Ratusan bait syair tentang sejarah kehidupan Rasulullah itu ia hafal di luar kepala. Tak tanggung-tanggung, empat buah album kaset maulid, ratib, dan selawat telah diluncurkannya sejak tahun 1993 lalu.
Figur kita, yang kerap tampak di perhelatan spiritual para habib, kali ini adalah Habib Ali bin Soleh Alatas, ulama yang kental berdialek Betawi, pengasuh Majelis Taklim Ar-Ridwan, Bekasi Kidul. Ihwal kepiawaian Habib Ali membaca maulid karya Syekh Abdurrahman Ad-Diba’i ini berasal dari sang kakek, Habib Muhammad bin Muhsin Alatas, generasi pertama habaib yang menjejakkan kaki di Bekasi, dan ayahnya, Habib Soleh bin Abdullah Alatas.
Sang ayah, Habib Soleh Alatas, adalah kemenakan sekaligus menantu Habib Muhammad bin Muhsin Alatas. Sebelum menetap di Bekasi, ia pernah merantau ke Jambi, dan sempat menikah dengan seorang gadis yang memberinya lima orang anak. Beberapa tahun kemudian, Habib Soleh kemudian menetap di Bekasi dan mendirikan majelis taklim Ar-Ridwan, yang diasuhnya hingga wafat pada malam Kamis, 10 Muharam, atau 23 Januari tahun 1975.
Di Bekasi, Habib Soleh menikah dengan putri pamannya, Habib Muhammad bin Muhsin Alatas, Syarifah Nur, yang kemudian memberinya tujuh orang putra-putri. Habib Ali sendiri lahir pada tahun 1950, putra sulung pasangan tersebut.
Dari sang mertua pula Habib Soleh pertama kali belajar melantunkan bait-bait maulid Ad-Diba’i, yang kemudian diturunkan kepada semua putra-putrinya. Meski kemudian hanya Habib Ali yang mewarisi kepiawaian sang ayahanda, menghafal dan melantunkan maulid Diba’.
Ketika Habib Soleh wafat pada 10 Muharam atau 23 Januari 1975, Habib Ali pun mulai sering diminta membaca maulid Diba’ di berbagai tempat. Ia juga melanjutkan kebiasaan sang Ayah, membaca maulid tersebut setiap malam Jumat di musala sebelah rumahnya. Dari seringnya membaca, Habib Ali pun akhirnya hafal di luar kepala.
Berbincang dengan ulama yang satu ini memang terasa segar. Derai tawa renyah sering mengiringi ungkapan-ungkapannya yang penuh hikmah. Di beranda rumahnya di Jalan Kartini/Mayor Oking, Bekasi Kidul, Habib Ali bertutur tentang perjalanan hidupnya.
Habib Ali bin Soleh Alatas mulai belajar agama kepada sang ayah, yang menurutnya sangat keras dalam mendidik. Selain itu, di waktu kecil, ia juga mengaji fikih kepada mualim Mu’thi dan belajar membaca Al-Quran kepada Ustaz Muhammad Ali, guru ngaji setempat. Ketika beranjak dewasa, secara intensif Habib Ali mengikuti pengajian Habib Abdurrahman Asegaf, Bukitduri. Read the rest of this entry »

  1. Pengertian Pembelajaran Berbicara

Berbicara adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan fikiran gagasan dan perasaan.

Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun seta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atu penyimak.

Dengan demikian pembelajaran berbicara dapat didefinisikan sebagai aktifitas mengungkapan gagasan, pendapat, ide melalui lisan dalam kegiatan pembelajaran.

 

  1. Unsur-unsur dalam Kegiatan Berbicara
  2. Pembicara
  3. Isi Pembicaraan
  4. Saluran
  5. Penyimak, dan
  6. Tanggapan penyimak

 

  1. Konsep Dasar Berbicara
    1. Membutuhkan paling sedikit dua orang,
    2. Menggunakan salah satu sandi linguistic yang difahami bersama
    3. Mengakui atau menerima satu daerah referensi umum, daerah referensi yang mungkin tidak selalu dikenal, ditentukan, namum pembicara menerima kecenderungan untuk menentukan satu diantaranya.
    4. Merupakan suatu pertukaran antara partisipan, kedua pihak partisipan yang  memberi dan menerima dalam pembicaraansating bertukar sebagai pembicara dan penyimak.
    5. Menghubunghkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan lingkungan dengan segera. Prilaku lisan sang pembicara selalu berhubungan dengan respon yang nyata atau yang diharapkan, dan seorang penyimak dan sebaliknya.
    6. Berhubungan dengan atau berkaitan denganmasa kini.
    7. Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang dengan suara atau bunyi bahasa dan pendengar.
    8. Secara tidak pandang bulu mengharap serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil.

 

  1. Tujuan Pengaran Berbicara dalam Pengajaran Bahasa Arab
    1. Agar siswa mapu berinteraksi dengan guru, teman atau dengan orang asing (asli arab) dengan baik dan benar.
    2. Melatih dan mengembangkan fotensi siswa dalam menggunakan bahasa secara lisan untuk mengemukakan pendapat, perasaan, menjalin komunikasi, dan melakukan inyteraksi dengan masyarakat luas. Read the rest of this entry »

 

A.    PENDAHULUAN

Sebagai salah satu keterampilan berbahasa, menyimak merupakan keterampilan yang memungkinkan seorang pemakai bahasa untuk memahami bahasa yang dugunakan secara lisan. Karena banyaknya komunikasi sehari-hari yang dilakukan secara lisan,kemampuan ini amat penting dimiliki oleh setiap pemakai bahasa. Tanpa kemampuan menyimak yang baik, akan terjadi banyak kesalah pahaman dalam komunikasi sesama pemakai bahasa, yang dapat mnyebabkan berbagai hambatan dalm pelaksanaan tugas dan kegiatan sehari-hari.

Oleh karena itu kemampuan menyimak merupakan bagian yang penting dan tidak dapat diabaikan dalam pengajaran bahasa, terutama bila tujuan penyelanggaraannya adalah penguasaan keterampilan berbahasa secara utuh. Dalam pengajaran secara itu, peerkembangan dan tingkat penguasaan kemampuan menyimak perlu dipantau dan diukur melalui penyelanggaraan tes menyimak.

Menyimak atau istima’ merupakan keterampilan dalam berbahasa arab yang memungkinkan seseorang untuk memahami bahasa arab yang digunakan secara lisan, sehingga terhindar dari kesalahpahaman dalam berkomunikasai yang dapat menyebabkan berbagai hambatan dalam pelaksanaan tugas dan kegiatan sehari-hari. Dengan memiliki penguasaan keterampilan menyimak yang mamadai, duharapkan siswa terbiasa dengan bunyi-bunyi bahasa arab yang pada akhirnya memungkinkannya untuk melafalkan bunyi-bunyi tersebut dengan benar. (Ibrahim, 1987: 223).

 

 

  1. B.     KONSEP
  2. a.    Pengertian Menyimak

Menyimak adalah mendengar secara khusus dan terpusat pada objek yang disimak (Natasasmita Hanapi, 1995: 18).

Menyimak dapat didefinisikan suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan. (Djago Tarigan, 1991: 4).

“Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang lisan-lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan”. (Tarigan: 1983). Read the rest of this entry »

Metode Ilmiah dalam pengembangan ilmu

Posted: December 21, 2012 in Filsafat

 A.       Metode Ilmiah

Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.”
Metode Ilmiah merupakan suatu cara sistematis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur dan terkontrol. Menurut A. Nashrudin, S.IP, M,Si (dossuwanda.wordpress.com ), Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Berdasarkan fakta
2. Bebas dari prasangka
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa
4. Menggunakan hipolesa
5. Menggunakan ukuran objektif
6. Menggunakan teknik kuantifikas
A.   Pengertian Metode Berfikir Ilmiah
Pengertian Metode Berpikir IlmiahSecara etimologi, metode berasal dari bahasa yunani yaitu kata meta (sesudahatau dibalik sesuatu) dan hodos (jalan yang harus ditempuh). jadi metode adalahlangkah-langkah (cara dan teknis) yang diambil, menurut urutan atau sistematikatertentu untuk mencapai pengetahuan tertentu, Metode menurut Senn,merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyailangkah-langkah yang sistematis. Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.Metode berpikir ilmiah merupakan prosedur, cara atau teknik dalammendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu, jadi ilmu merupakan pengetahuanyang didapatkan lewat metode ilmiah atau dengan kata lain bahwa suatupengetahuan baru dapat disebut suatu ilmu apabila diperoleh melalui kerangkakerja ilmiah, syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan metode ilmiah. Pendapat lainmengatakan bahwa metode ilmiah adalah sebuah prosedur yang digunakanilmuwan dalam pencarian kebenaran baru. Dilakukan dengan cara kerjasistematis terhadap pengetahuan baru dan melakukan peninjauan kembalikepada pengetahuan yang telah ada. Read the rest of this entry »
  1. A. Objek Material Filsafat Ilmu

Objek Material filsafat ilmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat. Maka ada filsafat tentang manusia (antropologi), filsafat tentang alam (kosmologi), dan filsafat tentang akhirat (teologi – filsafat ketuhanan dalam konteks hidup beriman dapat dengan mudah diganti dengan kata Tuhan). Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan terpisah, saling berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Menurut Drs. H.A.Dardiri bahwa objek material adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Segala sesuatu yang ada itu di bagi dua, yaitu :

  1. Ada yang bersifat umum (ontologi), yakni ilmu yang menyelidiki tentang hal yang ada pada umumnya.
  2. Ada yang bersifat khusus yang terbagi dua yaitu ada secara mutlak (theodicae) dan tidak mutlak yang terdiri dari manusia (antropologi metafisik) dan alam (kosmologi). Read the rest of this entry »

Latar belakang munculnya filsafat

Posted: December 21, 2012 in Filsafat

Filsafat, terutama filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kirakira abad ke-7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir-pikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filosof ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filosof-filosof Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Read the rest of this entry »

Kisah Pasir dan Batu

Posted: December 16, 2012 in Uncategorized

 

Dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah

melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang.

 

Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.

 

Tiba-tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir beterbangan disekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.

 

Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu. “Ah..,tamatlah riwayat kita,” kata pengembarapertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini.” Read the rest of this entry »

Apakah Tuhan mencuptakan kejahatan ..?

Posted: December 16, 2012 in Filsafat

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah
universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan
pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang
menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor
sekali lagi. “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti
Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut
prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita
bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor
tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa
sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah
mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya
bertanya sesuatu?” Read the rest of this entry »