Filsafat Pengetahuan Mistik

Posted: November 21, 2012 in Filsafat

Image

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Mistik disebagian masyarakat tertentu masih menjadi pelengkap kehidupan. Namun ada juga yg beranggapan mistik hanya menjadi sasaran empuk segala kemelut persoalan masyarakat Alih-alih, bernasib kurang mujur dan dicap kurang baik mistik selalu dicibirkan, hingga eksistentinya terancam pudar. Tapi tetap dipelihara.

sampai saat ini pengetahuan mistik kurang mendapat perhatian para ahli di perguruan tinggi. Padahal, pemahaman ini sering kali  mendarah daging di masyarakat dan sangat nyata. Ketimbang ilmu pengetahuan yang bersifat teoritis dan dapat dintalar oleh akal manusia.

  1. Metode perumusan masalah

Adapun metode perumusan masalah ini diambil dari berbagai sumber yang bekenaan tentang pengetahuan mistik dan juga realita pengetahuan mistik pada zaman sekarang ini, serta dampak dampak dari pengetahuan mistik itu sendiri.

  1. Tujuan

Adapun tujuan perumusan makalah ini secara keseluruhan adalah mengetahui ontologi, epistimologi dan aksiologi pengetahuan mistik, serta yang berada didalamnya.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.       Ontologi Pengetahuan Mistik
  1. 1.      Hakikat Pengetahuan Mistik

Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinning), tersembunyi (verborgen), gelap (donker), atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Mistik mempunyai arti:

  1. Subsistem yang ada dihampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan, tasawuf, suluk
  2. Hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa

Berdasarkan arti tersebut mistik sebagai sebuah paham yaitu paham mistik atau mistisisme, merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali bagi penganutnya.[1]

Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional, ini pengertian yang umum.adapun pengertian mistik dikaitkan dengan agama ialah pengetahuan ajaran atau keyakinan tentang tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera dan rasio (A.S. Hornby, A Leaner’s Dictionary of Current English, 1957 : 828).

Pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat di pahami rasio, maksudnya, hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat di pahami rasio. Di dalam islam, yang termasuk pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang di peroleh melalui jalan tasawuf atau pengetahuan mistik yang memang tidak di peroleh melalui indera atau jalan rasio. Pengetahuan mistik juga disebut pengetahuan yang supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.[2]

Pengetahuan mistik juga sering disebut dengan pengetahuan metafisika yang artinya cabang filsafat yang membicarakan ‘hal-hal yang berada di belakang gejala-gejala yang nyata’. Metafisika itu sendiri berasala dari kata ‘meta’ dan ‘fisika’. Meta berarti ‘sesudah’,’selain’,atau ‘di balik’. Fisika yang berarti ‘nyata’, atau ‘alam fisik’. Dengan kata lain bisa disebut juga ‘sesudah,’di balik yang nyata’.

Menurut Asmoro Achmadi (2005;14), metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan sesuatu yang bersifat “keluarbiasaan” ( beyond nature ), yang berada di luar pengalaman manusia (immediate experience). Menurut Ahmadi , metafisika mengkaji sesuatu yang berada di luar hal-hal yang berlaku pada umumnya( keluarbiasaan ), atau hal-hal yang tidak alami, serta hal-hal yang berada di luar kebiasaan atau diluar pengalaman manusia.

  1. 2.      Struktur pengetahuan mistik

Dilihat dari segi sifatnya mistik dibagi menjadi dua, yaitu :

  1. Mistik Biasa, jika dalam islam, mistik biasa adalah tasawuf, karena tanpa mengandung kekuatan tertentu.
  2. Mistik Magis, adalah sesuatu yang mengandung kekuatan tertentu. Magis ini dibagi dua, yakni :
    1. 1.      Magis Putih, selalu dekat hubungannya dengan tuhan, sehingga dukungan tuhan yang menjadi penentu. Mistik magis putih bila dicontohkan dalam Islam seperti mukjizat, karamah, ilmu hikmah.
    2. 2.      Magis Hitam, erat hubungannya dengan kekuatan setan dan roh jahat. Menurut Ibnu Khaldun penganut magis hitam memiliki kekuatan di atas rata-rata, kekuatan mereka yang menjadikan mereka mampu melihat hal-hal ghaib dengan dukungan setan dan roh jahat. Contohnya seperti santet dan sejenisnya yang menginduk ke sihir. Jiwa-jiwa yang memiliki kemampuan magis ini dapat digolongkan menjadi tiga, diantaranya :

Pertama, mereka yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau himmah. Itu disebabkan jiwa mereka telah menyatu dengan jiwa setan atau roh jahat. Para filosof menyebut mereka ini sebagai ahli sihir dan kekuatan mereka luar biasa.

Kedua, mereka yang melakukan pengaruh magisnya dengan menggunakan watak benda-benda atau elemen-elemen yang ada di dalamnya, baik benda angkasa atau benda yang ada di bumi. Inilah yang disebut jimat-jimat yang biasa disimbolkan dalam bentuk benda-benda material atau rajah.

Ketiga,mereka yang melakukan pengaruh magisnya melalui kekuatan imajinasi sehingga menimbulkan berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi. Kelompok ini disebut kelompok pesulap ( sya’badzah ).

  1. 3.      Aliran – aliran dalam pengetahuan mistik

Didalam kajian Ontologi atau bagian metafisika yang umum pada pengetahuan mistik terdapat beberapa aliran dalam pengetahuan mistik itu sendiri yang membahas segala sesuatu dan yang ada secara menyeluruh serta mengkaji persoalan-persoalannya, seperti hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan, dan pengertian tentang kebebasan.

Di dalam pemahaman atau pemikiran ontologi  ini, dapat ditemukan pandangan- pandangan pokok aliran tersebut, adapun aliran pengetahuan mistik yang dimaksud diantaranya adalah :

  1. a.        Aliran Monoisme, paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa ruhani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Istilah monoisme oleh Thomas Davidson disebut dengan block universe. Paham monoisme kemudian terbagi ke dalam dua aliran :
    1. 1.      Aliran materialisme Menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya, bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya cara tertentu.
    2. 2.      Aliran idealisme  Menurut idealisme, gambaran yang benar yang tepat sesuai dengan kenyataan sebagaimana diteorikan oleh realisme merupakan sesuatu yang mustahil, sesuatu yang tidak mungkin. Karena itu, idealisme mentakrif hakikat ilmu sebagai hasil dari proses mental yang niscaya bersifat subyektif. Pengetahuan bagi penganut idealisme bukan hanya merupakan gambaran subyektif, bukan gambaran obyektif tentang kenyataan. Dengan demikian, pengetahuan menurut teori idealistik ini tidak memberikan gambaran yang tepat tentang kenyataan di luar alam pikiran manusia.
    3. b.        Aliran Dualisme, adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualisme materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena materi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya aliran ini masih memiliki masalah dalam menghubungkan dan menyelaraskan kedua aliran tersebut. Aliran dualisme memandang bahwa alam terdiri dari dua macam hakikat sebagai sumbernya. Aliran dualisme merupakan paham yang serba dua, yaitu antara materi dan bentuk. Menurut paham dualisme , di dalam dunia ini selalu dihadapkan kepada dua pengertian, yaitu ‘yang ada sebagi potensi’ dan ‘yang ada secara terwujud’. Keduanya adalah sebutan yang melambangkan materi (hule) dan bentuk(eidos).
    4. c.         Aliran Pluralisme, berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralism bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuannya nyata. Pluralisme sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua identitas.
    5. d.        Aliran Nikhilisme, menyatakan bahwa dunia ini terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Aliran ini tidak mengakui validitas alternative positif. Dalam pandangan nikhilisme, Tuhan sudah mati. Manusia bebas berkehendak dan berkreativitas.
    6. e.         Aliran Agnotisme, menganut paham bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu di balik kenyataannya. Manusia tidak mungkin mengetahui hakikat batu, air, api dan sebagainya. Sebab menurut aliran ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh indranya maupun oleh fikirannya. Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat ruhani.[3]
  1. B.       Epistimologi pengetahuan mistik

 

  1. 1.      Objek pengetahuan mistik

Yang menjadi objek pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak (supra-rasional), seperti alam gaib termasuk Tuhan, Malaikat, surga, neraka, jin dan lain-lain. Termasuk objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supra natural (supra rasional), seperti kebal, debus, pelet, penggunaan jin dan santet.[4]

  1. 2.      Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik tidak diperoleh melalui indra ataupun melalui akal. Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa. Dalam agama samawi, salah satunya agama islam, cara untuk mendapatkan itu harus dengan cara membersihkan jasmani dan rohani terlebih dahulu. Agar unsur rohani bersih maka harus menghilangkan nafsu jasmani, diantara nafsu jasmani yang paling dominan adalah nafsu kelamin dan nafsu perut. Karena keduanya inilah yang akan menyebabkan banyak orang memasuki siksa tuhan di akhirat.

Dalam pandangan para sufi, cara memperoleh pengetahuan mistik disebut juga thariqat yang terdiri dari maqam-maqam untuk menggapai tuhan. Pada umumnya cara untuk memperoleh pengetahuan mistik adalah latihan yang disebut juga riyadhah. Dari sinilah manusia memperoleh pencerahan yang dalam tradisi tasawuf disebut dengan istilah ma’rifah. Begitu pula dengan pengetahuan mistik yang di luar regional agama, cara untuk mendapatkannya adalah latihan batin.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode untuk mendapatkan pengetahuan mistik adalah latihan.[5]

  1. 3.      Ukuran kebenaran pengetahuan mistik

Kebenaran mistik dapat diukur dengan berbagai macam ukuran. Bila pengetahuan itu berasal dari tuhan, maka ukuran kebenarannya adalah teks Tuhan yang memnyebutkan hal itu. Tuhan mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa surge dan neraka itu ada, maka teks itulah yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran akan kebenaran pengetahuan mistik itu adalah kepercayaan. Jadi sesuatu akan dianggap benar karena kita mempercayai akan hal tersebut. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh oleh kita untuk melakukan suatu pekerjaan, maka kepercayaan itulah yang akan menjadi kepercayaannya. Adapun kebenaran suatu teori dalam pengetahuan mistik diukur dengan bukti empiric dalam hal ini maka bukti empiriklah yang menjadi ukuran kebenarannya.[6]

  1. C.       Aksiologi Pengetahuan Mistik

Di sini dibahas kegunaan pengetahuan mistik dan cara pengetahuan mistik menyelesaikan masalah.

1.      Kegunaan Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik itu amat subjektif, yang paling tahu penggunaannya ialah pemiliknya. Seharusnya kita bertanya kepada pengamal tasawuf, para pengamal ahli hikmah, atau kepada dukun mereka gunakan untuk apa pengetahuannya itu. Secara kasar kita dapat memperkuat keimanan, mistik-magis-putih digunakan untuk kebaikan, sedangkan mistik-magis-hitam digunakan untuk tujuan jahat.

Di kalangan sufi ( pengetahuan mistik biasa ) dapat menentramkan jiwa mereka, mereka bahkan menemukan kenikmatan luar biasa tatkala ‘ berjumpa’ dengan kekasihnya ( Tuhan ). Pengetahuan mereka sering dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh sain dan filsafat. Pemegang mistik magis putih menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Jenis mistik lain seperti kekebalan, pelet, debus, dan lain-lain diperlukan atau berguna bagi seseorang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu, terlepas dari benar atau tidak penggunaannya.

2.      Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah

Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah tidak melalui proses inderawi dan tidak juga melalui proses rasio. Itu berlaku untuk mistik putih dan mistik hitam.

a.      Cara Kerja Mistik Magis Putih

Para ahli hikmah dengan metode kasyf telah menemukan bahwa didalam agama ada muatan–muatan praktis untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah.

Mereka menyadari bahwa kekuatan Tuhan baik yang ada dalam diri Nya atau yang ada dalam firman Nya dapat digunakan oleh manusia. Dengan memanfaatkan gambaran Tuhan yang maha berkuasa dalam segala hal ayat-ayat itu digunakan untuk menggugah Tuhan memenuhi janjiNya. Pada kondisi seperti itu ayat-ayat Al-Quran atau kitab samawi yang lain sering digunakan sebagai perantara manusia dengan Tuhan. Bahkan Asma-asma Tuhan sering digunakan para ahli bidang ini untuk meminta sesuai dengan kebutuhan.

Pengertian yang dapat diambil adalah bahwa do’a dan wirid yang dapat menjembatani manusia dengan kebutuhannya dan Tuhan yang memiliki apa yang dibutuhkan itu. Para ahli hikmah telah mengembangkan teknik membuat wirid dan do’a untuk keperluan seperti itu. Teknik itu dikembangkan dalam apa yang disebut asrar al-huruf dan asrar al-asma.

Dalam pandangan mereka huruf-huruf itu memiliki khadam dan kekuatan yang berbeda. Bahkan karakter huruf-huruf itun pun berbeda satu sama lainnya. Ada huruf yang berkarakter al-maiyah ( air ) seperti huruf dal, ha, lam, ‘ain, ra, kha, dan ghain. Yang memiliki huruf al-hawaiyah ( udara ) seperti jim, zaay, kaf. Karakter al-thurabiyah ( tanah ) seperti huruf ba, waw. Karakter al-nariyah ( api ) seperti alif, tha, mim, dan fa.

Jika seseorang dapata atau sanggup mempraktikan wirid atau do’a sesuai dengan rumusan maka kekuatan ilahiyah ( khadam atau malaikat ) akan dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.

Cara yang kedua ialah memindahkan jiwa-jiwa ilahiyah atau khadam yang ada dalam asma-asma Allah. Cara inilah yang disebut wafaq atau isim. Wafaq atau isim harus ditulis dengan menggunakan tinta tertentu, pada kondisi tertentu dan ditulis pada suatu benda tertentu seperti kulit ari kijang, kulit harimau atau pada logam. Dalam pandangan ulama hikmah, waktu memiliki karakter dan potensi. Waktu yang 24 jam terbagi oleh tujuh kekuatan yang disimbolkan oleh bintang ( zodiak ) : atharid, zuhal, marikh, musytari, qamar, syams, dan zuhrah.

b.    Cara Kerja Mistik Hitam

Cara kerja mistik magis hitam telah digambarkan oleh ibnu khaldun sebagai berikut. Kita telah melihat dengan mata kepala sendiri cara seorang tukang sihir membuat gambar korbannya. Digambarkan dalam bentuk yang ia inginkan, ia rencanakan untuk membuat orang tersebut mengadopsi, baik dalam bentuk simbol-simbol, nama-nama, atau atribut-atribut. Lalu ia baca mantra bagi gambar yang diletakannya sebagai ganti orang yang dituju, secara kongkret dan simbolik. Selama mengulang-ulang kata-kata buruk itu, ia mengumpulkan air ludah dimulutnya lalu menyemburkan nya pada gambar itu. Lalu ia ikatkan buhul pada simbol menurut sasaran yang telah disiapkan tadi. Ia menganggap ikatan buhul itu memiliki kekuatan dan efektif dalam praktik sihir.

Ia meminta jin kafir untuk berpartisipasi agar mantra itu lebih kuat. Gambar korban dan nama buruk itu memiliki roh jahat. Roh itu dari tukang sihir dengan tiupannya melekat pada air ludah yang disemburkannya ke luar. Ia memunculkan lebih banyak roh jahat. Akibatnya, segala sesuatu yang dituju tukang sihir tadi benar-benar terjadi.

D.     Contoh pengetahuan mistik

1.      Mukayafah

Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan tentang dan dalam Tuhan, suatu pengetahuan hakikiyah. Mukasyafah adalah upaya penyingkapan hijab-hijab yang menutupi diri. Secara esensial penyingkapan adalah penghancuran tirai yang menutup objek dengan jalan rohani. Tabir dalam rohani terbagi kedalam dua jenis, yaitu tirai penutup ( hijab ar-rayni ) yang tidak mungkin disingkap dan kedua ( hijab i ghayni ) yang dapat dicampakan.

Sistem pengetahuan mukasyafah berpijak pada asumsi bahwa Tuhan memancarkan pengetahuanNya itu tidak dapat dipahami oleh indera ataupun rasio. Pengetahuan yang dipancarkanNya itu hanya dapat dipahami oleh potensi spiritual kita. Indera dan akal rasional itu tidak hanya tidak mampu memahaminya, bahkan juga menjadi penghalang tatkala potensi spiritual kita berusaha menangkap pengetahuan itu.

Pengetahuan mukasyafah terkait dengan situasi batin tertentu maka epistimologinya akan bersifat psikologis, yaitu mengusahakan agar potensi spiritual atau batin itu sanggup membuka diri dan menangkap pengetahuan Tuhan tersebut.

2.      Ilmu Laduni

Ilmu laduni adalah ilmu bathiniyah yang bukan merupakan hasil pemikiran, ilmu laduni  adalah ilmu yang diterima langsung melalui ilham, iluminasi, atau inspirasi dari sisi Tuhan ( Ensiklopedi Islam, 3: 90 )

Adanya ilmu laduni dibenarkan oleh Al-quran seperti disebut dalam surat Al-Kahfi ayat 65. Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa ilmu laduni diberikan kepada Nabi, dalam hal ini Nabi Khidir. Namun sekalipun demikian ilmu laduni dapat juga dimiliki oleh seorang nabi dan Rasul dengan syarat orang itu.

Adapun kegunaan ilmu laduni ialah sebagai berikut:

a.       Agar dapat memahami ilmu dengan tepat

b.      Dapat mengetahui tingkatan ilmu seseorang

c.       Mengetahui karakter seseorang.[7]

3. Sa’efi

Dari segi terminologi saefi adalah nama ilmu yang terdiri dari rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang disandarkan pada Allah. Dari segi substansi saefi adalah doa yang dibaca terus menerus atau berulang-ulang menurut bilangan dan waktu tertentu.

Cara memperoleh pengetahuan saefi sangat beragam, umumnya diperoleh melalui puasa atau hanya dengan melakukan wirid saja dengan bilangan tertentu, atau tidak memakan makanan yang bernyawa, tidak bersebadan. Umumnya saefi diperoleh dengan banyak dzikrullah dan menjauhi maksiat.

Ada beberapa macam jenis saefi yaitu

  • saefi dzulfaqar,
  • saefi mughni,
  • saefi umum,
  • saefi antazaman.

4. Jang-Jawokan

Jangjawokan adalah semacam ucapan untuk tujuan magis tertentu. Isi kalimatnya mirip mantra dan biasanya disusun dalam bentuk syair. Bacaannya diajarkan oleh gurunya dari mulut ke telinga (secara lisan), syarat-syaratnya seperti puasa wedal, puasa tiga hari berturut-turut, puasa mutih, kadang tapa, dll. Jika telah dibekali dengan bacaan jangjawokan akan ada pantangan yang tidak boleh dilanggar.

Pengetahuan ini tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali bila ia telah menyatakan ingin berguru. Jangjawokan merupakan tradisi mistis yang berlaku di daerah tertentu. Sandaran yang dipakai bermacam-macam, kadang ke Allah kadang ke dewa atau jin.[8]

BAB III

KESIMPULAN

 

Pengetahuan mistik pada saat ini adalah pengetahuan yang sangat dicari oleh sebagian orang karena eksistensinya yang bisa menjadikan sesuatu menjadi nyata tanpa menunggu terlalu lama akan proses yang dilaluinya dalam perjalanan yang semestinya. Pengetahuan ini menjadi eksis dan dicari oleh sebagian orang karena pengaruhnya sangat besar bagi kebutuhan orang yang ingin menginginkan sesuatu secara instan tanpa melalui proses terlebih dahulu.

Kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinning), tersembunyi (verborgen), gelap (donker), atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

Pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat di pahami rasio, maksudnya, hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat di pahami rasio. Pengetahuan mistik ada 2 macam jenisnya yaitu mistik biasa dan mistik magis, mistik magis terbagi lagi menjadi 2 bagian yaitu magis hitam dan magis putih.

Adapun komponen dalam pengetahuan mistik terdiri dari : Ontologi pengetahuan mistik yang berisikan tentang hakikat pengetahuan mistik, struktur pengetahuan mistik, dan aliran – aliran dalam pengetahuan mistik. Aliran dalam pengetahuan mistik itu sendiri terbagi menjadi 5 bagian yaitu :

  1. Aliran Monoisme   –     Idealisme

-          Matrealisme

  1. Aliran Dualisme
  2. Aliran Pluralisme
  3. Aliran Nikhilisme
  4. Aliran agnotisme

Epistimologi pengetahuan mistik yang berisikan tentang objek pengetahuan mistik, cara memperolehnya dan ukuran kebenaran menurut pengetahuan mistik itu sendiri. Sedangkan Aksiologi pengetahuan mistik berisikan tentang kegunaan pengetahuan mistik dan cara pengetahuan mistik menyelesaikan masalah serta cara kerja dari magis putih dan magis hitam.

DAFTAR PUSTAKA

Tafsir Ahmad. Filsafat Ilmu. Bandung. Rosda. 2004

Susanto, A . Filsafat Ilmu , Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis, Jakarta, Bumi Aksara, 2011

http://afidburhanuddin.wordpress.com/2012/09/23/pengetahuan-mistik-tinjauan-epistimologi-ontologi-dan-aksiologi/

http://torowek.blogspot.com/2011/06/filsafat-pengetahuan-mistik-ontologi.html

http://dahlia-ahabb99.blogspot.com/2012_03_01_archive.html

http://mcdens13.wordpress.com/2011/12/29/pengetahuan-sain-filsafat-dan-mistik/


[2] Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Bandung : Rosda, 2004, hlm 112.

[3] Susanto, A . Filsafat Ilmu , Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis, Jakarta, Bumi Aksara, 2011

[4] Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Bandung : Rosda, 2004, hlm 118

[5]  http://torowek.blogspot.com/2011/06/filsafat-pengetahuan-mistik-ontologi.html

[7] Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Bandung : Rosda, 2004, hlm 153

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s